Empat ABK KM Arof Berjuang Hidup di Lautan Tinggi dengan Styrofoam

Ringkasan Berita:Kapal Arof terbalik di perairan Muara Kuala Penet, Lampung Timur karena gelombang tinggi sekitar 3–5 meter dan kondisi cuaca yang tidak baik.Enam kru kapal dari Cirebon menjadi korbanSuarna (45) ditemukan meninggal setelah dilakukan pencarian selama 4 hari.
, Lampung Timur -Ciri-ciri gelombang laut di perairan Kabupaten Lampung Timur terkenal dengan kondisi yang sangat keras bagi para pelaut dan tim penyelamat.
Kepala Pos SAR Bakauheni, Rezie Kuswara, menggambarkan situasi gelombang yang mencapai ketinggian 3 hingga 5 meter yang menyerbu kapal secara berulang, membuat kapal kesulitan untuk tetap seimbang.
Kejadian ini menimpa Kapal Motor (KM) Arof, sebuah kapal perikanan yang memiliki enam awak kapal (ABK) berasal dari Cirebon, Jawa Barat, yang mengalami kecelakaan di perairan Muara Kuala Penet, Lampung Timur, pada hari Sabtu (13/6/2026).
Salah satu korban, Suarna (45), ditemukan meninggal setelah empat hari pencarian.
Di sisi lain, satu korban lainnya, Tarno (50) yang merupakan kapten KM Arof, masih dalam pencarian.
Memasuki hari kelima operasi pencarian dan pertolongan (SAR), tim gabungan masih melakukan pemeriksaan di sepanjang pantai Way Kambas hingga kawasan Sekopong dalam upaya menemukan korban terakhir.
Berdasarkan keterangan awal, KM Arof yang mengangkut enam ABK tersebut terbalik akibat benturan gelombang saat cuaca buruk dan angin timuran yang kencang.
Pada situasi darurat, awak kapal berusaha bertahan dengan memegang alat mengapung berupa styrofoam yang biasanya digunakan sebagai pelampung jaring ikan.
Namun, gelombang kedua diduga membagi mereka menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama terdiri dari empat ABK yang berhasil bertahan dengan memegang sisa styrofoam.
Mereka kemudian berenang ke sebuah struktur (rumah ikan) di tengah laut sejauh sekitar setengah mil, dan mampu bertahan selama satu hari semalam hingga dievakuasi oleh tim SAR.
Kelompok kedua terdiri dari dua anggota, termasuk kapten, yang berada di luar rombongan.
Diduga akibat kelelahan dan cuaca laut yang tidak menentu, pegangan mereka lepas dan keduanya terbawa arus.
Salah satu anggota kelompok tersebut ditemukan meninggal dunia sekitar satu mil dari pantai Way Kambas pada hari keempat pencarian, sementara kapten masih belum ditemukan.
Pada hari Senin, kondisi KM Arof dipastikan telah menyelam sepenuhnya ke dasar laut.
Untuk melanjutkan pencarian, tim SAR gabungan yang dipimpin oleh Basarnas melalui Pos SAR Bakauheni menggerakkan berbagai peralatan dan armada pendukung.
Operasi ini juga melibatkan Polairud Polda Lampung, Polairud Lampung Timur, TNI AL Labuhan Maringgai, Bakamla, BPBD Lampung Timur, serta bantuan dari komunitas nelayan setempat.
Rezie menjelaskan, wilayah pencarian dibagi menjadi beberapa area dengan menggunakan sistem SAR Map dari Basarnas untuk memperkirakan arah hanyut korban berdasarkan data angin dan arus laut.
Berdasarkan peta yang ada, arus laut saat ini cenderung menuju daratan, sehingga fokus pencarian berada di area pantai.
Pencarian dilakukan sekitar 3 hingga 5 jam setiap hari, yang dibagi menjadi dua sesi, yaitu pagi dan sore.
Tim menggunakan perahu karet kokoh (RIB) 02 Bakauheni serta kapal pengawas milik TNI AL dan Polairud.
Namun, operasi pencarian menghadapi beberapa tantangan, antara lain: cuaca yang berubah dengan cepat, dari kondisi tenang menjadi hujan deras dan gelombang tinggi dalam waktu singkat, penyempitan muara yang mempersulit pergerakan kapal RIB saat air pasang surut, serta kondisi geografis kawasan hutan lindung sepanjang pantai Way Kambas yang menyulitkan proses evakuasi dan pergerakan kapal besar.
Empat awak kapal yang berhasil selamat kini dalam keadaan fisik baik, tetapi mengalami gangguan psikologis.
Mereka sempat diungsikan sementara di Lampung Timur sebelum kembali ke Cirebon bersama jenazah rekan mereka.
Rezie mengatakan bahwa para korban yang selamat masih mengalami luka batin sehingga belum mampu memberikan keterangan menyeluruh mengenai tempat kejadian.
Ia juga menyebutkan bahwa selama bulan Januari hingga Juni, terdapat enam kejadian kecelakaan kapal nelayan di perairan Lampung Timur, mulai dari kapal yang tenggelam akibat cuaca buruk hingga kecelakaan kerja yang terjadi di atas kapal.
Menurutnya, sebagian besar kejadian terjadi akibat kurangnya standar keselamatan pada kapal perahu nelayan tradisional.
"Banyak kapal tidak dilengkapi peralatan keselamatan seperti jaket pelampung dan pelampung lingkaran. Pada situasi darurat, sebagian nelayan hanya mempercayai jerigen atau styrofoam," katanya.
Rezie menekankan perlunya peningkatan kesadaran keselamatan di laut bagi para nelayan dan pemilik perahu.
Ia menekankan bahwa penggunaan alat keselamatan umum seperti jaket pelampung adalah keharusan untuk menghindari korban jiwa dalam situasi darurat di laut.
(/Fajar Ihwani Sidiq)
Posting Komentar