Harga minyak naik usai pertemuan AS-Iran gagal
Jakarta, IDN Times– Kenaikan harga minyak mentah global kembali terjadi karena munculnya ancaman geopolitik baru di kawasan Timur Tengah yang mengancam stabilitas pasar keuangan dunia. Berdasarkan laporanAnadolu AgencyKontrak minyak mentah Brent berada pada posisi 80,11 dolar AS (setara dengan Rp1,4 juta) per barel pada hari Jumat (19/6/2026) pukul 07.00 GMT.
Peningkatan ini muncul setelah Kementerian Luar Negeri Swiss mengonfirmasi pembatalan rencana diskusi antara Amerika Serikat dan Iran di Burgenstock. Pembatalan terjadi setelah Gedung Putih mengumumkan bahwa Wakil Presiden JD Vance tidak akan melakukan perjalanan, sementara persiapan teknis dengan pihak Iran belum selesai.
1. Ketidakpastian dalam diplomasi menggambarkan situasi di Selat Hormuz
Gagalnya pertemuan di Swiss memperparah ketidakpastian dalam tahap diplomasi antara kedua negara. Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan damai sementara yang mengakhiri perselisihan lama yang sempat menyebabkan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.
Di tengah munculnya kembali ketegangan diplomatis, kondisi jalur energi justru menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. MengutipCNBC, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz mulai pulih setelah Amerika Serikat dan Iran melakukan kesepakatan untuk membuka kembali jalur laut strategis tersebut bagi kegiatan pelayaran komersial.
2. Pemulihan lalu lintas kapal mengaktifkan jalur energi
Data dari perusahaan intelijen perdagangan komoditas Kpler menunjukkan setidaknya 20 kapal tanker minyak telah melewati Selat Hormuz sejak dibuka kembali. Aktivitas ini menjadi yang tertinggi sejak penutupan awal Juni, meskipun jumlahnya masih lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum perang yang biasanya mencapai lebih dari 100 kapal per hari.
Secara keseluruhan, terdapat 25 kapal dari berbagai jenis yang melewati selat tersebut. Pemulihan ini terjadi setelah Angkatan Laut Amerika Serikat menghentikan blokade terhadap Iran, sehingga Teheran memberikan akses tanpa biaya selama 60 hari bagi kapal yang melintasi wilayah tersebut. Vance menyampaikan kepada para jurnalis bahwa Iran telah memenuhi kesepakatan yang dijajaki.
Kepala Riset Komoditas Kpler, Matt Smith, menjelaskan bahwa lalu lintas kapal berjalan cukup seimbang dengan 13 kapal yang bergerak dari Barat ke Timur dan 12 kapal dari Timur ke Barat. Tiga kapal tanker super dari Arab Saudi serta satu kapal dari Uni Emirat Arab (UEA) juga melintasi jalur tersebut. Kapal-kapal jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) ini mampu mengangkut hingga 2 juta barel minyak, sementara kapal-kapal Iran mulai mengaktifkan kembali transponder yang sebelumnya dimatikan selama konflik.
3. Peluang pengiriman tetap mampu mengatasi kenaikan harga minyak
Analis Kpler mengawasi lima kapal tanker besar Iran yang membawa beban penuh telah meninggalkan wilayah tersebut.
"Arus kapal dua arah menunjukkan bahwa perdagangan minyak mentah Iran secara perlahan mulai kembali ke pola operasi yang biasa," kata para analis Kpler, dilaporkanCNBC.
Menurut Kepler, sebagian besar kapal dagang saat ini mengikuti rute laut dalam yang ditentukan oleh Iran. Keadaan ini memicu pembahasan kembali tentang pengelolaan Selat Hormuz setelah masa bebas biaya selama 60 hari berakhir. Iran rencananya akan membicarakan dengan Oman dan negara-negara Teluk terkait pengelolaan jalur air tersebut, termasuk kemungkinan penerapan tarif di masa depan.
Peningkatan prospek pengiriman membantu mengendalikan kenaikan harga minyak agar tidak melonjak lebih tinggi. Kebijakan Komando Pusat AS yang mencabut pembatasan pelayaran ke perairan Iran serta rekomendasi penggunaan jalur dekat pantai Oman untuk menghindari ranjau juga mendukung situasi ini. Di sisi lain, rencana Kuwait untuk meningkatkan kapasitas produksi menyebabkan harga minyak kembali turun hampir seluruh kenaikan sejak konflik meletus pada akhir Februari dan mempertahankan tren penurunan mingguan yang signifikan.
Ahli Ekonomi Mengatakan Harga Bahan Bakar Tidak Segera Turun Meski Harga Minyak Global Menurun Cara OPEC+ Mengatur dan Mengontrol Harga Minyak Global



Posting Komentar