News Breaking
MEDKOM LIVE
wb_sunny

Breaking News

Kebijakan BI Tetap Ketat, Ekonom Prediksi Suku Bunga Naik Lagi

Kebijakan BI Tetap Ketat, Ekonom Prediksi Suku Bunga Naik Lagi

.CO.ID - JAKARTA.Beberapa ekonom memprediksi, arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) ke depan kemungkinan besar akan tetap bersifat ketat. BI dianggap masih memiliki ruang untuk menaikkan tingkat suku bunga acuannya (BI Rate) guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta menghadapi potensi risiko inflasi.

Rupiah mulai mengalami penguatan setelah sebelumnya melemah hingga mencapai angka di atas Rp 18.000 beberapa waktu lalu. Pada awal pekan ini, rupiah spot ditutup pada posisi Rp 17.709 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Senin (15/6/2026), naik 0,85% dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya yang berada di Rp 17.860 per dolar AS.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual, memprediksi bahwa BI masih memiliki kesempatan untuk menaikkan tingkat suku bunga kebijakannya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan yang rencananya akan diadakan pada 18 Juni.

Menurut David, untuk mempertahankan daya tarik aset yang dinyatakan dalam rupiah dibandingkan negara-negara berkembang (emerging markets/EM) yang lain juga sedang menaikkan suku bunga, Bank Indonesia masih memiliki kesempatan untuk meningkatkan BI Rate lebih lanjut.

"Untuk mempertahankan daya tarik aset rupiah dibanding negara EM lain yang juga mengalami kenaikan suku bunga, mungkin akan naik 25 hingga 50 basis poin lagi," ujar Davidkepada , Selasa (16/6/2026).

Lebih lanjut menurutnya, tingkat suku bunga BI saat ini masih cenderung behind the curve jika dibandingkan dengan kenaikan bunga surat utang Rupiah Bank Indonesia (SRBI) serta surat hutang negara (SBN).

Suku bunga BI saat ini cenderungbehind the curve dibandingkan dengan kenaikan total imbal hasil SRBI dan SBN. Sementara posisi rupiah masih memiliki potensi risiko inflasi," ujar David.

Ia juga menegaskan masih terdapat dampak yang tertunda (lagging effect) terkait kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi. Di sisi lain, pertumbuhan kredit yang masih cukup stabil dianggap memberikan kesempatan bagi BI untuk meningkatkan tingkat suku bunga jika diperlukan.

David menilai bahwa pertimbangan utama Bank Indonesia tidak hanya terbatas pada pengendalian inflasi, tetapi juga menjaga agar koridor BI Rate tetap sesuai dengan instrumen suku bunga domestik lainnya seperti SRBI dan SBN.

Menurutnya, kebutuhan untuk campur tangan di pasar valuta asing memang mulai berkurang seiring perbaikan situasi geopolitik global. Namun, kondisi ini masih sangat rentan mengalami perubahan kapan saja.

"Kami melihat BI akan terus berupaya maksimal dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai alat, setidaknya hingga rupiah mencapai tingkat yang cukup stabil untuk jangka waktu yang lebih panjang," katanya.

Senada, Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk Hosianna Evalita Situmorang juga memprediksi Bank Indonesia akan kembali menaikkan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 poin dasar dalam Rapat Dewan Gubernur pada 18 Juni mendatang.

"Kami memprediksi Bank Indonesia masih akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,75% pada 18 Juni mendatang," kata Hosianna kepada .

Menurut Hosianna, tindakan tersebut selaras dengan usaha untuk mempertahankan daya tarik aset lokal di hadapan investor asing, khususnya melalui penawaran imbal hasil yang menarik.

Selain itu, berbagai insentif yang telah diberikan oleh Bank Indonesia, termasuk pengurangan biaya (discount) 10% dari transaksi swap hedginghedging) bagi investor asing, diharapkan pula meningkatkan ketertarikan untuk berinvestasi di pasar keuangan dalam negeri.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar