Misteri Arwah Kembar JIEXpo
Di kala senja menjelang, Ramdhan (19) dan Fitri (23), kakak beradik asal Depok, Jawa Barat, bergegas menaiki KRL Commuter Line menuju Jakarta. Perjalanan mereka berakhir di Stasiun Kemayoran, Jakarta Pusat. Setibanya di sana, mereka akan mencari tempat tersembunyi untuk berganti pakaian dan merias diri, demi mengais rezeki di malam hari. Berbeda dengan profesi pada umumnya yang menuntut penampilan rapi, Ramdhan dan Fitri justru harus menjelma menjadi sosok menyeramkan layaknya hantu untuk mendapatkan upah.
Ramdhan memilih persona pocong, mengenakan pakaian serba putih yang menyerupai kain kafan, lengkap dengan ikatan di kepalanya. Sementara itu, Fitri bertransformasi menjadi kuntilanak, dengan balutan gaun putih dan rambut palsu hitam panjang terurai hingga pinggang. Setelah kostum terpasang, tahap selanjutnya adalah aplikasi riasan wajah. Keduanya mengoleskan krim wajah legendaris berwarna putih pekat ke seluruh wajah, menciptakan kesan pucat pasi yang khas hantu. Tak berhenti di situ, area sekitar mata mereka dipertegas dengan polesan krim hitam legam, teknik yang biasa digunakan perias pengantin untuk menciptakan paes yang dramatis. Hasilnya, wajah asli mereka tertutup sempurna, sulit dikenali, dan berubah menjadi sosok yang benar-benar menyeramkan.
Usai bersolek, kedua kakak beradik ini berjalan kaki menuju area depan Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta Utara. Ketika melihat antrean panjang pengunjung yang hendak memasuki area parkir, mereka segera beraksi. Dengan sigap, mereka menghampiri kerumunan, mencoba menghibur sekaligus mengejutkan dengan ekspresi hantu mereka. Reaksi yang muncul beragam; ada yang terkejut hingga berteriak ketakutan, namun tak sedikit pula yang tertawa terbahak-bahak melihat penampilan unik mereka.
"Ya Allah, kaget banget abang ah," seru salah seorang warga yang melihat Ramdhan dan Fitri, diiringi tawa. Setelah berhasil menarik perhatian, keduanya mengulurkan tangan, penuh harap mendapatkan rezeki dari orang-orang yang telah mereka hibur. Namun, tidak semua orang bersedia memberikan recehan dari saku mereka; beberapa justru memilih untuk mengusir kakak beradik ini.
Terpaksa Mengais Rezeki dengan Kostum Hantu
Ramdhan mengungkapkan bahwa ia terpaksa menjadi pengamen berkostum hantu karena kehilangan pekerjaan sebelumnya di sebuah restoran. "Saya sudah lulus SMA tahun kemarin. Bukan enggak mencari kerja, dulu saya kerja di restoran tapi karena kontraknya sudah habis jadi kayak begini buat sampingan sambil mencari kerja lagi," jelasnya.
Sementara itu, Fitri terjerumus ke dalam profesi ini lantaran lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan pendapatan suaminya yang tidak mencukupi untuk menghidupi kedua anak mereka yang masih kecil. Suami Fitri sendiri juga berprofesi sebagai pengamen berkostum hantu di kawasan Pecenongan, Jakarta Pusat. Beban keluarga mereka bertambah dengan adanya seorang ibu yang juga harus ditanggung biaya hidupnya. Saat Ramdhan, Fitri, dan suaminya bekerja, sang ibu bertugas menjaga kedua cucunya di rumah kontrakan seharga Rp 1,2 juta per bulan yang mereka sewa di Depok.
Alasan Memilih Kostum Hantu
Keputusan untuk menjadi pengamen berkostum hantu ini terinspirasi dari fenomena serupa yang mereka lihat di kawasan Kota Tua. Selain itu, mereka menilai bahwa profesi ini belum banyak digeluti dibandingkan dengan pengamen badut. "Karena biar lain aja, kalau pakai kostum badut kan udah banyak," tutur Ramdhan.
Ramdhan menambahkan, mereka juga ingin menghindari stigma negatif dan tuduhan kriminalitas yang kerap dikaitkan dengan pengamen badut. "Kayak misalnya nih orang lagi makan, ada HP-nya di samping terus ama dia diambil. Kalau kita pakai kostum badut takutnya dikira kriminal semua karena kan sasarannya kita semua," jelasnya. Fitri memiliki kekhawatiran serupa, lebih memilih tampil menyeramkan sebagai hantu daripada dicap sebagai pelaku kriminal. "Biarin lain, karena badut kan udah banyak terus banyak dari mereka kriminal. Enggak semua badut begitu, tapi rata-rata begitu," tegasnya.
Pendapatan yang Pas-pasan
Setiap harinya, Fitri dan Ramdhan beroperasi di sekitar Kemayoran mulai pukul 16.00 WIB hingga tengah malam. Meskipun bekerja hingga larut, pendapatan mereka hanya berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 150.000. Uang tersebut digunakan untuk kebutuhan makan, membantu ibu mereka, dan membayar biaya kontrakan. Jika tidak melakukan profesi ini, keluarga mereka akan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar dan mempertahankan tempat tinggal yang layak.
Kakak beradik ini senantiasa mensyukuri berapapun penghasilan yang mereka dapatkan. "Rp 150.000 itu berdua karena kan jalannya bedua. Itu cukup aja yang penting bersyukur," ujar Fitri. Jika pendapatan sedang minim, Fitri berusaha untuk tidak mengeluh dan tetap percaya bahwa rezeki lain akan datang di kemudian hari.
Pendapatan mereka bisa meningkat drastis ketika terdapat acara besar di JIExpo Kemayoran. "Paling ramai ya bisa lah benar Rp 200.000 tapi jarang itu kalau ada momen tertentu aja kayak ramai begini," ungkap Fitri.
Ruang Ekspresi Kultural di Perkotaan
Sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, memberikan pandangannya mengenai fenomena pengamen berkostum hantu yang semakin marak di Jakarta. "Pertama ini menarik dengan fenomena berkostum hantu, sepengetahuan dan sepengalaman saya memang awal mulanya banyak dilakukan di luar negeri, terutama di kota besar Eropa yang banyak menjadi destinasi wisata. Misalnya, di Amsterdam, Berlin, dan beberapa kota lain," jelas Rakhmat melalui telepon.
Fenomena ini kemudian merambah ke kota-kota besar di Indonesia, seperti Bandung dan Jakarta. Rakhmat mencatat bahwa di sepanjang Jalan Braga Bandung, pengamen berkostum hantu sangat mudah ditemukan, menyapa pengendara yang terjebak kemacetan.
Dari sudut pandang sosial, keberadaan pengamen berkostum hantu merupakan manifestasi kreativitas masyarakat perkotaan. Melalui medium ini, mereka berusaha menyampaikan ekspresi diri sebagai warga kota dengan cara yang unik. "Pengamen hantu ini mencoba mengembangkan ruang ekspresi masyarakat perkotaan dengan cara yang berbeda, unik, dan khas. Itu menurut saya menarik sebagai salah satu entitas dari ruang ekspresi masyarakat perkotaan," ujar Rakhmat.
Ruang ekspresi masyarakat perkotaan didefinisikan sebagai area di mana setiap individu atau kelompok dapat mengekspresikan diri dalam berbagai bentuk, seperti parade, karnaval, festival, pertunjukan musik, atau kebudayaan. Pengamen berkostum hantu, menurut Rakhmat, adalah contoh ekspresi kultural perkotaan yang dikemas secara menarik, unik, menghibur, sekaligus menakutkan. "Kenapa unik karena ruang ekspresi kultural lainnya kan sudah hal biasa ya menghibur, tapi tidak menakutkan. Nah, pengamen hantu ini melengkapinya dengan sisi menakutkan atau horor untuk anak-anak, keluarga, dewasa, tantangannya di situ," tambahnya. Melalui interaksi dengan pengamen berkostum hantu, masyarakat, termasuk anak-anak, dapat belajar menghadapi sesuatu yang bersifat menyeramkan.
Imbauan untuk Tidak Bertindak Represif
Sebagai bentuk ekspresi kultural masyarakat perkotaan yang nyata, Rakhmat menyarankan agar pemerintah tidak mengambil tindakan represif terhadap para pengamen berkostum hantu. "Menurut saya enggak usah dianggap represif seperti ditangkap. Mungkin tidak usah ditangkap asal dijelaskan, diberikan sosialisasi terhadap pelaku pengamen hantu supaya mereka tidak menakut-nakuti atau meneror," tuturnya.
Rakhmat berpendapat, pemerintah sebaiknya membiarkan para pengamen ini untuk tetap mencari nafkah, sekaligus menjadi bagian dari dinamika kota yang membuat kehidupan perkotaan semakin kaya. Ia menekankan bahwa ini adalah ruang ekonomi dan sosial yang patut dihargai oleh aparat dan tidak bisa dihentikan begitu saja. "Hal itu akan menjadi masalah dan ironik ketika dilakukan represif. Ketika ditangkap itu kan represif, itu justru menjadi teror, karena ketika ditangkap akhirnya mereka kehilangan waktu untuk mengamen, kehilangan pundi-pundi dan seterusnya," pungkasnya.
Posting Komentar