Pelaku pembunuhan anak politikus PKS adalah pencuri di rumah Roisyudin? Reza singgung DNA-sidik jari
Ringkasan Berita:
- Pelaku pembunuhan MAHM, anak dari politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Serang akhirnya terungkap.
- Pelaku HA (30) ditangkap saat sedang mencuri di rumah milik mantan Anggota DPRD Kota Cilegon, Roisyudin Sayuri, Jumat (2/1/2026).
- Psikolog Forensik, Reza Indragiri Amriel menilai polisi terlalu cepat mengumumkan pelaku pencurian.
medkomsubangnetwork, JAKARTA- Pelaku pembunuhan MAHM (9), anak dari politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Serang, Maman Suherman akhirnya terungkap.
Pelaku HA (30) ditangkap di rumah milik mantan Anggota DPRD Kota Cilegon dua periode Roisyudin Sayuri di Lingkungan Pabuaran, Kelurahan Ciwedus, Kota Cilegon, Jumat (2/1/2026).
Dirreskrimum Polda Banten, Kombes Dian Setyawan, mengungkapkan HA diamankan ketika mencuri di sebuah warga di Kota Cilegon, Banten.
"Iya (ditangkap saat sedang mencuri)" kata Dian, Sabtu (3/1/2026).
Aksinya tersebut tertangkap basah asisten rumah tangga (ART) Roisyudin yang kemudian meminta bantuan warga agar melapor ke polisi.
HA sempat bersembunyi di dalam rumah sebelum akhirnya dibekuk polisi.
Psikolog Forensik, Reza Indragiri Amriel menilai polisi terlalu cepat mengumumkan pelaku pencurian adalah juga pelaku pembunuhan terhadap MAHM, anak dari politikus PKS Kota Serang, Maman Suherman.
Penetapan pelaku pembunuhan itu bersumber dari pernyataan pelaku pencurian saat diinterogasi awal oleh polisi.
Menurut Reza, faktanya bahwa tidak ada foto ataupun sketsa wajah pelaku pembunuhan untuk dibandingkan dengan wajah pelaku pencurian.
"Baik dari rekaman CCTV maupun deskripsi saksi-saksi yang sudah diperiksa polisi," kata Reza Indragiri Amriel dalam keterangannya kepada Tribunnews, Minggu (4/1/2026).
Selain itu menurutnya belum ada pengecekan kesamaan DNA atau pun sidik jari si pencuri dengan DNA dan sidik jari di lokasi pembunuhan.
Saat terjadi pembunuhan di rumah anggota PKS Serang, diketahui tidak ada barang berharga yang hilang. Rumah itu merupakan TKP pembunuhan.
Sementara orang yang polisi sebut sebagai pelaku pembunuhan itu ditangkap saat sedang berusaha mencuri di rumah anggota DPRD.
"Berarti, pelaku yang sama memiliki dua motif yang berbeda saat menyatroni dua rumah?" tanya Reza.
Di rumah anggota PKS, pelaku datang tidak dengan motif instrumental (mendapatkan manfaat dari aksi kejahatan).
Sementara di rumah anggota DPRD, pelaku yang sama datang dengan motif instrumental.
"Atau, jangan-jangan pelaku pencurian bukanlah pelaku pembunuhan?" kata dia.
Reza mengatakan pembunuhan anak dengan puluhan luka tusuk dan luka lebam itu terjadi pada berlangsung pada Selasa (16/12/2025).
Kekerasan seekstrem itu mneurutnya bisa membuat pelaku ketakutan, sehingga memilih kabur.
"Bisa pula membuat pelaku trauma, sehingga mengisolasi diri," ujarnya.
Dengan dua kondisi psikologis tersebut, Reza menilai sangat mencengangkan bahwa dua pekan setelah membunuh si pelaku beraksi kembali dengan melakukan pencurian.
"Segila itukah si pelaku? Atau sebaliknya: secepat itukah pelaku menstabilkan guncangan jiwanya? Seprofesional itukah dia?," kata Reza.
Di sisi lain Reza mendukung polisi mengungkap kasus pembunuhan dan kasus pencurian di dua lokasi tersebut.
Namun demikian dia mengingatkan agar proses hukum tidak cukup mengandalkan pengakuan si pelaku pencurian.
"Apalagi jika ia mengalami guncangan pasca ditangkap polisi di TKP pencurian, maka keterangan seketika yang keluar dari mulutnya tidak serta-merta layak dipercaya," kata Reza.
"Bayangkan saja, dalam kondisi shocked, pelaku dicecar pertanyaan oleh sekian banyak polisi sesaat setelah diamankan dari TKP pencurian," katanya.
Apalagi jika cecaran pertanyaan disertai dengan kekerasan.
Termasuk pertanyaan yang--disadari maupun tidak--memandu si pelaku untuk memberikan jawaban sesuai keinginan polisi.
Dalam kondisi serapuh itu, Reza menilai kemungkinan munculnya coerced false confession menjadi terbuka.
Artinya, perlakuan polisi justru melatarbelakangi pelaku pencurian untuk mengaku-aku bahwa seolah dia juga pelaku pembunuhan.
"Karena itulah, walau sudah telanjur mengumumkan ke publik, polisi tetap harus memiliki dua alat bukti agar bisa memproses si pencuri sebagai pelaku pembunuhan," ujarnya.
Reza mengingatkan bahwa merekayasa cerita, menanam bukti, dan meng-abuse pelaku pencurian harus dihindari.
"Semoga polisi bekerja proporsional, prosedural, dan profesional agar dua peristiwa pidana tadi terkuak dan berproses hukum sesuai ketentuan dan kenyataannya," pesan Reza.
Pelaku Ditangkap di Rumah Mantan Anggota DPRD
Sebelumnya Polisi telah menangkap HA (30), terduga pelaku pembunuhan MAHM (9), anak dari politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Serang, Maman Suherman.
HA ditangkap saat mencuri di rumah milik mantan Anggota DPRD Kota Cilegon dua periode Roisyudin Sayuri.
Penangkapan pelaku terjadi di Lingkungan Pabuaran, Kelurahan Ciwedus, Kota Cilegon, Jumat (2/1/2026).
Anggota DPRD Provinsi Banten, Dede Rohana mengungkapkan sebelumnya mereka tidak menyadari HA adalah terduga pembunuh MAHM.
"Memang saat itu saya tidak ada di lokasi. Sebelumnya tidak ngeh, kami tidak tahu kalau itu ada kaitannya dengan peristiwa di BBS. Kami baru tahu pada malam harinya. Saat kami menelepon polisi, ternyata dari hasil pengembangan, pelaku memiliki keterkaitan dengan kasus di BBS," kata Dede Rohana, Sabtu (3/1/2026).
Ia menyampaikan bahwa pelaku melancarkan aksinya saat kondisi rumah saudaranya sedang sepi.
Menurutnya, rumah tersebut kerap kosong setiap akhir pekan karena ditinggal pemiliknya ke BSD, Tangerang.
"Soalnya setiap hari Sabtu–Minggu rumah itu kosong karena ditinggal ke BSD, karena punya rumah juga di BSD. Kalau hari Minggu itu memang tidak ada orang," ujarnya.
Aksi pencurian tersebut terekam kamera pengawas (CCTV) dan kemudian dilaporkan ke Polsek Cilegon.
"Hari Minggu (28/12/2025) itu terjadi pencurian. Yang hilang perhiasan, dan brankas sudah berada di luar rumah dibawa menggunakan kursi roda, tetapi belum sempat diambil dan akhirnya ditinggalkan," ucap Dede.
Ia menceritakan bahwa brankas hasil curian yang tertinggal itu membuat pelaku kembali ke rumah milik mantan anggota DPRD Kota Cilegon tersebut untuk melakukan aksi pencurian kedua kalinya.
"Pada momen Tahun Baru, rumah kembali sepi. Nah, pada Jumat siang itu kebetulan ada asisten rumah tangga (ART) di rumah. Pelaku ini sepertinya melanjutkan aksinya karena sebelumnya belum berhasil membongkar brankas," jelasnya.
Pada aksi kedua tersebut, pelaku kepergok oleh ART yang sedang membersihkan rumah majikannya.
Pelaku panik dan melarikan diri, namun terpeleset. Tak lama kemudian, ART menghubungi warga setempat dan pihak kepolisian.
"Pada hari Jumat itu, dia sampai membawa pemanas gembok, sepertinya penasaran ingin membongkar brankas. Di dalam rumah dia sudah memegang semua kunci kamar, lalu ketahuan oleh ART yang sedang bersih-bersih. ART berteriak dan pelaku langsung lari," tuturnya.
"Karena posisi rumah agak berbukit dan ada tangga, sepertinya dia terpeleset dan jatuh. ART kemudian meminta tolong dan menelepon saudara saya yang sedang liburan di luar kota. Saudara saya lalu menghubungi warga, karyawan, termasuk menelepon polisi. Pelaku akhirnya bersembunyi di dalam rumah dan tidak bisa keluar. Saat ditangkap, sudah ada darah, kemungkinan lecet karena membentur tangga," kata Dede.
Dede mengaku penangkapan pelaku berlangsung dramatis karena pelaku sempat menodongkan pistol kepada warga.
"Karena pelaku membawa pistol, warga tidak berani langsung menangkap karena takut ditembak. Ternyata setelah ditangkap, pistol tersebut pistol mainan jenis pistol gas. Tidak lama kemudian, pasukan Brimob langsung datang," jelasnya.
"Sepertinya dia spesialis rumah kosong dan rumah mewah. Soalnya dilihat dari SIM dan kartu anggota serikat, dia seorang pekerja, karyawan Chandra Asri. Padahal gajinya lumayan, tapi kok mencuri," ujarnya.
Kronologi Kejadian
Sementara itu pembunuhan MAHM bermula sekitar pukul 14.20 WIB ketika ayah korban, Maman Suherman, menerima telepon dari anak keduanya D yang terdengar panik dan meminta pertolongan pada Selasa (16/12/2025).
Maman yang sedang berada di tempat kerja langsung pulang ke rumahnya di Kompleks Bukit Baja Sejahtera (BBS) III, Kelurahan Ciwaduk, Kota Cilegon.
Setibanya di rumah dan membuka pintu, ayah korban mendapati anaknya dalam kondisi tengkurap dengan luka serius disertai pendarahan hebat.
Anggota dewan pakar DPD PKS Cilegon kemudian membawa anaknya menggunakan mobil untuk mendapatkan penanganan medis ke Rumah Sakit Bethsaida, Kota Cilegon.
Sesampainya di rumah sakit, dokter menyatakan korban telah meninggal dunia.
Dari hasil pemeriksaan awal, korban mengalami luka akibat 19 tusukan benda tajam.
Posting Komentar