Fenomena Tikang-Tikang di Sulut Mengkhawatirkan, Psikolog UKIT Beri Tanggapan
Ringkasan Berita:
- Kegiatan kejahatan di Sulawesi Utara semakin meningkat dan mencapai tingkat yang memprihatinkan.
- Peristiwa yang paling menarik perhatian masyarakat adalah munculnya kelompok "peks tikang-tikang."
- Peks merupakan istilah setempat yang merujuk pada para pemuda atau remaja yang suka membawa senjata tajam dan melakukan kekerasan.
- Kejahatan di Sulawesi Utara semakin meningkat dan mencapai tingkat yang memprihatinkan.
Peristiwa yang paling menarik perhatian masyarakat adalah munculnya kelompok "peks tikang-tikang," istilah setempat yang merujuk pada remaja atau pemuda yang senang membawa senjata tajam dan melakukan kekerasan.
Bahkan, tindakan berani ini sering kali dilakukan di siang hari.
Merespons isu ini, akademisi dari Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), Dr. Preysi Siby, M.Psi., Psikolog, menyampaikan pendiriannya.
Berdasarkan pandangan lulusan terbaik Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, dari sudut pandang psikologi, meningkatnya keberanian pelaku dalam melakukan tindakan di siang hari menunjukkan adanya perubahan persepsi risiko saat bertindak.
"Secara umum pelaku tidak lagi memandang lingkungan sebagai ancaman bagi dirinya, tetapi merasa kesempatan untuk sukses (melakukan tindak pidana) lebih besar dibanding kemungkinan tertangkap," ujar Preysi Siby kepada Tribun Manado melalui WhatsApp, Rabu 24 Juni 2026.
Selain itu, Preysi menganggap masyarakat juga sebaiknya memperhatikan fenomena penurunan kesadaran terhadap tindakan yang menyimpang.
Menurutnya, semakin sering masyarakat terpapar berita tentang kejahatan, sebagian orang bisa mengalami pengurangan respons emosional.
"Yaitu keadaan di mana tindakan yang dulu dianggap ekstrem mulai dianggap sebagai sesuatu yang lebih umum atau bahkan dilakukan," katanya.
Ia menjelaskan bahwa faktor lain yang menyebabkan hal tersebut adalah meningkatnya sifat impulsif dan rendahnya kemampuan menahan frustrasi.
"Di tengah tekanan ekonomi, sosial, atau tuntutan gaya hidup yang tinggi, beberapa orang cenderung lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan atau keinginan secara cepat tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang," ujarnya.
Reaksi Keras
Di sisi lain, kondisi yang mulai tidak kondusif ini menimbulkan reaksi keras dari sejumlah anggota legislatif di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Manado.
Kekhawatiran itu muncul dalam Sidang Paripurna pembahasan tingkat I terhadap rancangan Perda mengenai Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kota Manado Tahun Anggaran 2025 yang diadakan di Kantor DPRD Manado, Kelurahan Bengkol, Kecamatan Mapanget, Senin (22/6/2026).
Rapat dihadiri langsung oleh Wakil Ketua Dewan Mona Cloer, setelah dibuka dengan pembacaan surat masuk oleh Sekwan Steven Rende.
Agenda selanjutnya dilanjutkan dengan penyampaian ringkasan pertanggungjawaban oleh Wali Kota Manado, Andrei Angouw.
Rapat tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Andrei Angouw, Ketua DPRD Aaltje Dondokambey, jajaran Forkopimda, serta pejabat SKPD yang bersangkutan.
Di dalam rapat tersebut, anggota DPRD Manado, Sri Nanda Lamadau memberikan komentar tajam.
Dengan pakaian dan jilbab berwarna hitam yang dikenakannya, anggota legislatif dari Partai NasDem ini terlihat penuh semangat serta penuh perasaan saat mengajukan pertanyaan kepada Wakapolres Manado yang turut hadir di ruang sidang.
"Berapa korban lagi yang diperlukan," tanyanya.
Kondisi Manado saat ini memprihatinkan karena serangkaian kejadian berdarah.
Ia menekankan bahwa keadaan ini sangat ironis bagi Manado yang memiliki julukan kota pariwisata dunia, karena ketidakamanan akan langsung berdampak negatif pada industri pariwisata.
"Harus diambil tindakan keras," katanya.
Ia meminta polisi segera mengenali akar permasalahan dan menemukan solusi nyata, sambil menyatakan dukungan penuh dari lembaga legislatif.
"Kami siap membantu," katanya.
Sejalan dengan Sri Nanda, anggota legislatif lainnya, Rachman Kodu, menawarkan solusi dengan mengusulkan kembali mengaktifkan Pos Komando Keamanan Lingkungan (Poskamling) guna memperkuat pengawasan di tingkat masyarakat bawah.
"Ketua lingkungan juga dapat terlibat di sana," katanya.
Merespons tekanan dari para anggota legislatif, Pemerintah Kota Manado segera bertindak cepat.
Ditemui setelah pelantikan pejabat tinggi pratama di ruang Tolu kantor Pemkot Manado pada Selasa (23/6/2026), Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Manado, Steaven Dandel, menyambut baik berbagai masukan yang diberikan.
Mengenakan seragam dinas berwarna coklat kekuning-kuningan, Steaven menyampaikan bahwa pihaknya telah memerintahkan peningkatan pengawasan bersama di area-area yang dianggap rentan terhadap tindak kriminal, termasuk melibatkan anggota Brimob.
"Kami akan meningkatkan patroli yang dilakukan oleh Ketua lingkungan bersama Polri," katanya.
Langkah pencegahan dan tindakan hukum juga dijamin akan dilakukan dengan lebih keras.
"Untuk Polres sudah ada perintah tegas," tambahnya.
Pemerintah Kota Manado menegaskan komitmennya sepenuhnya untuk bekerja sama dengan aparat kepolisian dalam upaya mengembalikan kenyamanan kota.
Saat ini, masyarakat diharapkan menggunakan layanan darurat Call Centre 112 yang terhubung langsung dengan polisi dan ketua lingkungan apabila melihat atau mengalami kejahatan.
Selain itu, Pemerintah Kota Manado juga memaksimalkan aplikasi Manado Hub yang mencatat potensi gangguan keamanan.
Tindakan ini sesuai dengan pernyataan Wali Kota Manado Andrei Angouw beberapa waktu lalu, yang menyampaikan bahwa pemerintah telah menemukan sekitar 1.000 "peks peks tikang tikang" atau individu yang sering membawa senjata tajam dan mengganggu warga di Kota Manado. (ART/RIZ)
Posting Komentar