News Breaking
MEDKOM LIVE
wb_sunny

Breaking News

Aceh Darurat: Pasar Ludes, Warga Kelaparan Tanpa Air

Aceh Darurat: Pasar Ludes, Warga Kelaparan Tanpa Air

Warga Nangroe Aceh Darussalam yang terdampak banjir mengeluhkan minimnya pasokan bantuan yang belum merata. Di berbagai wilayah, persediaan makanan dan air minum semakin menipis, sementara akses listrik dan internet masih terputus.

Keluhan Warga di Tengah Bencana

Kondisi sulit dirasakan oleh warga di Bireuen dan Takengon. Seorang warga yang enggan disebutkan namanya menyampaikan melalui pesan singkat betapa terisolasinya mereka. Akses jalan utama terputus, membuat bantuan sulit masuk.

"Di sini berat sekali, semua akses jalan putus dari Bireuen, Takengon," ujar Iin Yuningsih, mengutip pesan dari sepupunya di Bireuen. Akses internet pun sangat terbatas, hanya bisa diperoleh dengan menumpang koneksi WiFi di kantor bupati setempat.

Situasi diperparah dengan menipisnya pasokan bahan makanan. Pasar-pasar dilaporkan telah diserbu warga yang melakukan pembelian dalam jumlah besar, menyisakan sedikit persediaan seperti telur dan kebutuhan pokok lainnya.

Di Kabupaten Bener Meriah, warga juga menghadapi kesulitan serupa. Antrean panjang terlihat di sejumlah tempat pengisian bahan bakar, dengan pembatasan pembelian maksimal dua liter bensin per keluarga. Keterbatasan akses terhadap uang tunai juga terasa, di mana penarikan dari bank dibatasi hingga Rp500 ribu per keluarga. Sama seperti Bireuen, listrik dan jaringan internet di Bener Meriah juga padam. Untuk mendapatkan sinyal komunikasi, warga terpaksa mendaki ke dataran tinggi.

Sejumlah warga melintasi jembatan alternatif yang menghubungkan Desa Blang Meurandeh dan Desa Blang Puuk Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, Aceh, Ahad (30/11/2025). - (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Upaya Pemerintah Membuka Akses Terisolasi

Menanggapi kondisi darurat ini, Pemerintah Aceh telah mengerahkan enam unit alat berat ke Gunung Salak, Aceh Utara. Tujuannya adalah untuk membuka akses isolasi ke Kabupaten Bener Meriah yang terputus akibat banjir dan longsor.

Ketua Posko Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, M. Nasir, menjelaskan bahwa jalur melalui Bireuen membutuhkan waktu lebih lama untuk diperbaiki karena banyaknya titik longsor. Sementara itu, jalur Gunung Salak diprioritaskan karena dinilai memerlukan perbaikan yang lebih sedikit.

"TIM Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) sudah bergerak dan insya Allah untuk menembus ke Bener Meriah juga akan selesaikan dalam beberapa hari ke depan," ujar M. Nasir. Alat berat dari pemerintah dan pihak ketiga telah dikerahkan untuk membersihkan material longsor dan memperbaiki jalan yang rusak. Diharapkan, dengan terbukanya jalur Gunung Salak, mobilisasi logistik ke Bener Meriah akan lebih lancar.

Selain itu, Pemerintah Aceh melalui Dinas PUPR juga sedang membangun jembatan bailey di kawasan Awe Geutah. Jembatan ini akan menghubungkan Kabupaten Bireuen dengan Aceh Utara yang sebelumnya terputus akibat banjir.

"Pembangunan jalur alternatif ini untuk menghubungkan kedua kabupaten yang jembatannya terputus karena banjir," kata M. Nasir. Perkiraan waktu penyelesaian jembatan ini adalah empat hari ke depan, yang diharapkan dapat memulihkan konektivitas antar daerah. Jembatan yang putus di Kutablang sebelumnya telah mengisolasi wilayah tersebut.

Saat ini, penyaluran bantuan logistik dilakukan melalui berbagai jalur, termasuk laut, darat, dan udara.

Foto udara permukiman penduduk yang terisolasi akibat banjir di Desa Napai, Woyla Barat, Aceh Barat, Aceh, Jumat (28/11/2025). - (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Bantuan Logistik Mulai Tiba via Laut

Kabar baik datang dengan tiba di Pelabuhan Krueng Geukueh, Aceh Utara, sebuah kapal Expres Bahari yang membawa bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pemerintah Aceh.

"Alhamdulillah bantuan yang kita kirim melalui jalur laut ke Aceh Utara yang distribusi lewat darat terputus sudah tiba," kata Juru Bicara Posko Satgas Penanganan Bencana Aceh, Murthalamuddin. Bantuan ini dikirimkan ke wilayah yang belum dapat dijangkau melalui jalur darat.

Bantuan yang dikirimkan berasal dari BPBA, Dinas Sosial, dan sumbangan dari Presiden Prabowo Subianto. Tim telah memuat logistik dan mengirimkannya menggunakan kapal cepat menuju Aceh Utara.

Untuk wilayah Langsa dan Aceh Timur, bantuan logistik juga akan dikirimkan kembali melalui jalur laut menggunakan Expres Bahari, yang akan bersandar di Kuala Langsa atau Kuala Idi. Upaya penanganan bencana terus dilakukan secara menyeluruh, termasuk pendataan kebutuhan masyarakat dan kerusakan infrastruktur.

Sejumlah warga korban banjir berada di dalam tenda pengungsian di Desa Pasi Leuhan, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Kamis (27/11/2025). - (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Korban Jiwa dan Hilang Terus Bertambah

Data terbaru menunjukkan peningkatan jumlah korban jiwa akibat banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan total korban meninggal dunia mencapai 442 jiwa.

Kepala BNPB, Suharyanto, menyatakan bahwa jumlah korban hilang di ketiga provinsi tersebut mencapai 402 jiwa.

Di Sumatera Utara, korban meninggal dunia bertambah menjadi 217 orang. Korban tersebar di berbagai wilayah, termasuk Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Barat, Kota Padang Sidempuan, Deli Serdang, dan Nias. Sebanyak 209 warga dilaporkan masih hilang.

Jumlah pengungsi di Sumatera Utara juga tercatat signifikan, dengan rincian sebagai berikut: * Tapanuli Utara: 3.600 jiwa * Tapanuli Tengah: 1.659 jiwa * Tapanuli Selatan: 4.661 jiwa * Kota Sibolga: 4.456 jiwa * Humbang Hasundutan: 2.200 jiwa * Mandailing Natal: 1.378 jiwa

Di Aceh, korban meninggal dunia tercatat sebanyak 96 jiwa, dengan 75 orang masih hilang. Korban tersebar di 11 kabupaten/kota, termasuk Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Timur, Lhokseumawe, Gayo Lues, Subulussalam, dan Nagan Raya. Total pengungsi di Aceh mencapai sekitar 62.000 kepala keluarga.

Pengungsi korban banjir bandang berada di tenda darurat di Nagari Salareh Aia Timur, Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Ahad (30/11/2025). - (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Sementara itu, di Sumatera Barat, jumlah korban meninggal dunia mencapai 129 jiwa, dengan 118 orang hilang dan 16 lainnya mengalami luka-luka. Korban tersebar di Kabupaten Agam, Kota Padang Panjang, Kota Padang, Padang Pariaman, Tanah Datar, Pasaman Barat, Pasaman, Solok, Kota Solok, serta Pesisir Selatan. Total pengungsi di Sumatera Barat mencapai 77.918 jiwa.

BNPB menegaskan bahwa seluruh unsur pemerintah daerah, TNI-Polri, Basarnas, kementerian/lembaga, serta relawan terus bekerja keras untuk mempercepat pencarian korban, memenuhi kebutuhan dasar pengungsi, dan membuka akses ke wilayah yang masih terisolasi. Upaya ini dilakukan secara maksimal memasuki hari ketujuh masa darurat bencana.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar