News Breaking
MEDKOM LIVE
wb_sunny

Breaking News

Tambang Emas Pani Merdeka: Produksi Awal 2026, Raih Rekor Harga Emas?

Tambang Emas Pani Merdeka: Produksi Awal 2026, Raih Rekor Harga Emas?

Menjelang Produksi Emas Perdana, PT Merdeka Gold Resources Optimistis Sambut Lonjakan Harga Emas Global

PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) tengah bersiap melangkah ke babak baru dengan dimulainya produksi emas perdana dari Tambang Pani, Gorontalo, yang dijadwalkan pada awal tahun 2026. Momen penting ini bertepatan dengan prediksi para analis mengenai lonjakan signifikan harga emas dunia, yang diperkirakan akan menembus rekor tertinggi baru, bahkan mencapai US$4.900 per troy ounce.

Keyakinan terhadap prospek cerah logam mulia ini semakin diperkuat oleh proyeksi terbaru dari Goldman Sachs. Institusi keuangan ternama ini telah merevisi naik estimasi harga emas dari US$4.300 menjadi US$4.900 per troy ounce untuk Desember 2026. Peningkatan proyeksi ini didorong oleh beberapa faktor krusial, termasuk arus masuk dana yang deras ke dalam Exchange-Traded Funds (ETF) di kawasan Barat serta tren diversifikasi cadangan devisa yang dilakukan oleh bank sentral di seluruh dunia.

Di pasar domestik, harga buyback emas Antam pun telah menunjukkan performa impresif, menyentuh angka Rp2.330.000 per gram, yang hanya terpaut tipis dari rekor tertingginya sepanjang masa. Sementara itu, di pasar spot global, harga emas tercatat naik 0,2% menjadi US$4.310,21 per troy ounce, meskipun harga emas berjangka Amerika Serikat mengalami sedikit pelemahan tipis 0,1% menjadi US$4.332,3 per troy ounce.

Sinyal bullish yang kuat ini menjadi fondasi yang ideal bagi EMAS, yang saat ini tengah menyelesaikan tahap akhir konstruksi di proyek Tambang Pani.

Pendanaan Kuat untuk Operasional dan Pengembangan

Untuk memastikan seluruh operasional berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, entitas anak dari PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) ini telah berhasil mengamankan fasilitas revolving credit senilai US$350 juta, atau setara dengan Rp5,8 triliun, dari sebuah konsorsium perbankan. Dana segar ini melengkapi modal senilai Rp4,9 triliun yang telah berhasil dihimpun melalui penawaran umum perdana saham (IPO) pada September lalu.

Fasilitas kredit yang baru diperoleh ini akan dialokasikan secara strategis untuk beberapa keperluan penting, termasuk refinancing pinjaman yang dimiliki oleh anak usaha, pemenuhan kebutuhan modal kerja selama masa commissioning (uji coba operasional), serta pembiayaan lanjutan untuk pengembangan lebih lanjut Tambang Emas Pani.

Hingga tanggal 30 September 2025, perusahaan telah merealisasikan belanja modal untuk proyek ini sebesar US$208,7 juta, menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pengembangan aset strategis ini.

Progres Konstruksi Tambang Pani yang Signifikan

Progres konstruksi di Tambang Pani terus menunjukkan kemajuan yang pesat. Setelah berhasil menyelesaikan proses crushing bijih pada 12 November 2025, fasilitas adsorption, desorption & recovery (ADR) kini telah memasuki tahap energization pada 1 Desember 2025. Tahap ini akan segera diikuti oleh rangkaian proses commissioning mekanikal, elektrikal, serta sistem air.

Seluruh rangkaian tahapan krusial ini ditargetkan akan rampung sebelum akhir Desember 2025. Dengan demikian, irigasi reagen pertama dapat segera dilakukan pada awal Januari 2026, yang sekaligus menjadi langkah akhir sebelum proses penuangan emas perdana dapat dilaksanakan.

Presiden Direktur EMAS, Boyke Poerbaya Abidin, menyatakan bahwa kemajuan yang dicapai pada fasilitas ADR merupakan penanda tahapan strategis dalam transisi Tambang Emas Pani menuju operasi komersial.

“Dengan struktur pendanaan yang kuat, eksekusi yang disiplin, serta standar ESG (Environmental, Social, and Governance) yang tinggi, kami yakin Pani akan menjadi kontributor utama bagi Merdeka Group dan produksi emas nasional,” ujar Boyke dalam keterangan tertulisnya.

Tambang Pani: Aset Jangka Panjang dengan Potensi Besar

Tambang Emas Pani sendiri dirancang sebagai aset jangka panjang yang memiliki sumber daya emas yang sangat besar, diperkirakan mencapai 4,8 juta ounce. Pada tahap awal operasinya, fasilitas heap leach akan mengolah sekitar 7 juta ton bijih per tahun.

Lebih lanjut, dengan rencana pembangunan fasilitas Carbon-in-Leach (CIL) yang dijadwalkan pada tahun 2028, produksi puncak dari tambang ini diperkirakan akan menembus angka 500.000 ounce emas per tahun, menunjukkan potensi peningkatan kapasitas produksi yang signifikan di masa mendatang.

Prospek Cerah Harga Emas di Tengah Ketidakpastian Global

Analis dari Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menjelaskan bahwa rencana penurunan suku bunga acuan oleh The Fed pada akhir tahun 2025 akan membuat emas semakin menarik. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan melemahnya imbal hasil obligasi dan nilai dolar Amerika Serikat.

“Ketidakpastian geopolitik menjadikan emas sebagai buruan utama sebagai aset safe haven. Dengan permintaan struktural dari bank sentral yang terus meningkat, harga emas berpeluang besar untuk memecahkan rekor baru,” ungkap Andy.

Di sisi lain, World Gold Council (WGC) dalam laporan Gold Outlook 2026 memprediksi bahwa harga emas dapat mengalami kenaikan antara 5% hingga 15% pada tahun mendatang. Proyeksi ini melanjutkan tren positif yang telah terlihat sepanjang tahun 2025. Sepanjang tahun ini, emas telah melonjak drastis sebesar 60% ke level sekitar US$4.200, bahkan mencapai sekitar 50 titik all-time high (ATH) baru. Kenaikan yang terjadi sepanjang tahun ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 1979, atau dalam kurun waktu sekitar lima dekade terakhir.

Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) atau BSI, Banjaran Surya Indrastomo, menyatakan bahwa reli harga emas pada tahun 2026 diperkirakan akan tetap positif. Namun, peluang untuk melampaui kenaikan signifikan yang terjadi di tahun 2025 dinilai relatif kecil, kecuali jika terjadi guncangan besar seperti perlambatan ekonomi global yang lebih dalam, eskalasi konflik geopolitik, atau kembali meningkatnya ketidakpastian tarif.

Pembelian emas oleh bank sentral juga masih diproyeksikan akan tetap solid, meskipun laju pembeliannya mungkin mengalami penurunan. Pada kuartal pertama 2025, pembelian oleh bank sentral tercatat turun sebesar 12,6% secara tahunan, namun tetap menjadi salah satu penopang utama stabilitas harga emas. Goldman Sachs sebelumnya memperkirakan bahwa pembelian emas oleh bank sentral akan mencapai rata-rata 80 ton pada tahun 2025 dan 70 ton pada tahun 2026.

Sementara itu, bank sentral di negara-negara berkembang juga diproyeksikan akan terus melanjutkan strategi diversifikasi cadangan devisa mereka ke dalam aset emas.

Kepemilikan exchange-traded fund (ETF) di Barat diperkirakan akan meningkat seiring dengan langkah Federal Reserve yang berencana memangkas suku bunga dana acuan sebesar 100 basis poin hingga pertengahan tahun 2026.

“Sebaliknya, posisi spekulatif yang lebih bergejolak cenderung stabil. Setelah kenaikan besar pada bulan September, kepemilikan ETF Barat kini sepenuhnya sejajar dengan estimasi berbasis suku bunga AS kami, sehingga kekuatan ETF belakangan ini bukanlah lonjakan yang berlebihan,” demikian analisis dari Goldman Sachs.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar