Proyek sampah jadi energi listrik perlu alat berat yang tepat demi capai keberhasilan
Ringkasan Berita:
- Proyek Waste-to-Energy memerlukan alat berat dan sistem operasional yang tepat.
- Feeding limbah yang tidak stabil berisiko meningkatkan biaya dan downtime.
- Pendekatan terintegrasi dinilai krusial bagi keberlanjutan WtE nasional.
medkomsubangnetwork,, JAKARTA –Proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Waste-to-Energy (WtE) yang tengah dilakukan pemerintah memerlukan alat berat yang tepat demi mencapai keberhasilan.
Pengembangan WtE sendiri bertujuan untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus memperkuat bauran energi.
Dengan timbunan sampah nasional yang kini melampaui 189 ribu ton per hari, proyek WtE diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang.
Proyek ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mendorong ekonomi sirkular serta ketahanan energi.
Sejalan dengan arah tersebut, sejumlah proyek WtE dan RDF (Refuse-Derived Fuel) mulai dikembangkan di berbagai daerah.
Namun, keberhasilan proyek WtE tidak hanya bergantung pada teknologi pembangkit atau tungku pembakaran.
Namun, proyek ini juga membutuhkan sistem penanganan dan pergerakan limbah yang menjadi fondasi operasional fasilitas tersebut.
Tanpa sistem alat berat yang tepat, proyek WtE dinilai berisiko memberi dampak langsung pada kelayakan ekonomi proyek.
Dampak itu seperti feeding yang tidak stabil, downtime tinggi, serta lonjakan biaya operasional.
Saat ini, ada perusahaan alat berat yang telah berkecimpung di sektor industri dan material handling, yaitu PT Multicrane Perkasa (MCP).
MCP memposisikan diri sebagai Integrated Waste Movement Partner untuk proyek Waste-to-Energy di Indonesia.
MCP memiliki seluruh rantai penanganan limbah, mulai dari pre-processing, transfer, feeding, hingga keberlanjutan operasional fasilitas WtE melalui pendekatan sistem yang terintegrasi.
"Sebagai bagian dari komitmen kami mendukung agenda pemerintah dalam pengelolaan sampah berkelanjutan, kami melihat bahwa keberhasilan proyek Waste-to-Energy tidak cukup hanya dari sisi teknologi pembangkit, tetapi juga dari kesiapan sistem operasional di lapangan," kata Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa Adrianus Hadiwinata dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (4/2/2026).
Kesiapan Sistem Operasional
Salah satu pengembangan yang saat ini berjalan adalah proyek WtE di Sukabumi bersama Cahaya Yasa Cipta, serta inisiatif RDF yang sudah berjalan sejak Juli 2025.
Di tingkat regional, pengalaman implementasi RDF untuk kebutuhan industri semen di Thailand juga memperlihatkan bahwa keberhasilan proyek berbasis pengolahan limbah menjadi energi sangat ditentukan oleh kesiapan sistem operasional di lapangan.
Dalam konteks feeding limbah, MCP memiliki solusi berbasis crane.
Ada Hiab 19000 sebagai electric waste feeder yang dirancang untuk memastikan aliran limbah ke lini WtE atau RDF berlangsung stabil dan terkontrol.
Saat ini, dua unit Hiab telah ditempatkan untuk mendukung operasional proyek di Sukabumi.
Dua unit Hiab tersebut merupakan bagian dari penguatan sistem feeding yang lebih konsisten dibanding metode konvensional berbasis excavator diesel.
Sistem feeding berbasis electric memungkinkan operasi yang lebih stabil, menekan biaya operasional harian, serta mengurangi risiko gangguan teknis yang dapat memicu downtime.
Sementara itu, untuk kebutuhan transfer dan handling limbah berskala menengah hingga besar, MCP juga memiliki Liebherr material handler LH 40 yang dirancang khusus untuk operasi waste duty.
Unit itu memungkinkan penanganan limbah curah secara kontinu, mengurangi jumlah alat yang dibutuhkan dalam satu fasilitas, serta menjaga konsistensi feeding ke bunker atau conveyor dalam jangka panjang.
"Melalui penempatan dua unit Hiab di Sukabumi serta dukungan material handler Liebherr LH 40, kami berharap dapat membantu memastikan proses penanganan limbah berjalan lebih stabil, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Adrianus.
Melalui pendekatan ini, peran perusahaan alat berat dalam proyek WtE tidak lagi terbatas sebagai pemasok unit, tetapi sebagai penyedia sistem operasional terintegrasi.
Seiring meningkatnya komitmen pemerintah terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan, keberadaan mitra industri yang memahami karakter limbah Indonesia menjadi faktor penentu.
Dengan begitu, proyek WtE tidak hanya berjalan secara teknis, tetapi juga layak secara operasional dan ekonomi dalam jangka panjang.
Posting Komentar