Wall Street di Tengah Ketidakpastian Pasar Akibat Perang Iran

Krisis di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan tetap menjadi fokus utama para pelaku pasar di Wall Street dalam waktu dekat. Para investor terus mengamati perkembangan di Iran serta dampaknya terhadap kenaikan harga energi yang berpotensi mengganggu kestabilan pasar keuangan dunia.
Mengutip Reuters, Senin (23/3), Indeks S&P 500 mengalami penurunan sebesar 1,51 persen dan ditutup pada angka 6.506,48 poin, yaitu level terendah sejak Jumat (20/3) bulan September. Nasdaq mengalami koreksi sebesar 2,01 persen ke posisi 21.647,61 poin, atau hampir 10 persen lebih rendah dari rekor penutupan tertingginya pada 29 Oktober. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average melemah sebesar 0,96 persen menjadi 45.577,47 poin.
Selama seminggu, S&P 500 mengalami penurunan sebesar 1,9 persen, sementara Nasdaq dan Dow masing-masing turun lebih dari 2 persen. Sejak konflik Iran meletus pada 28 Februari, S&P 500 telah turun 5,4 persen, Nasdaq melemah 4,5 persen, dan Dow mengalami penurunan hampir 7 persen. Ketiga indeks tersebut kini berada di bawah rata-rata 200 hari, menunjukkan penurunan sentimen pasar.
Pada minggu ketiga perselisihan antara Amerika Serikat dan Israel di Iran, harga minyak mengalami kenaikan lebih dari 40 persen. Kenaikan ini menimbulkan kekhawatiran baru mengenai inflasi yang meningkat serta ancaman perlambatan ekonomi.
Tekanan inflasi mulai memengaruhi harapan pasar terhadap arah kebijakan moneter. Pada Jumat, para pelaku pasar mulai melewatkan kemungkinan penurunan suku bunga tahun ini yang sebelumnya diharapkan. Sebaliknya, kontrak berjangka justru menunjukkan potensi kenaikan suku bunga yang moderat pada 2026.
Ketua Bank Sentral Amerika Serikat Jerome Powell juga mengakui adanya ketidakpastian yang tinggi. Ia menyebutkan bahwa situasi saat ini membuat bank sentral kesulitan dalam memprediksi arah perekonomian di masa depan akibat meningkatnya konflik.
Di bursa saham, tekanan terlihat jelas. Indeks S&P 500 mengalami penurunan mingguan yang keempat secara beruntun dan mencapai titik terendah dalam enam bulan terakhir. Di sisi lain, Nasdaq Composite telah mengalami koreksi hampir 10 persen dari level tertingginya pada Oktober.
Tensi geopolitik juga mengalami peningkatan yang signifikan. Iran dilaporkan menyerang fasilitas energi regional sebagai balasan atas serangan Israel terhadap ladang gasnya. Di sisi lain, militer Amerika Serikat mengirimkan ribuan marinir ke wilayah tersebut.
"Situasi ini sangat dinamis. Kami bisa mencapai penyelesaian dalam seminggu mendatang atau mungkin terus berlangsung selama beberapa waktu. Semakin lama situasi ini berlangsung, kami mulai mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi terhadap perekonomian Amerika Serikat," ujar Chris Fasciano, Kepala Ahli Strategi Pasar di Commonwealth Financial Network.
Pergerakan harga minyak menjadi petunjuk utama yang diperhatikan oleh para investor. Minyak mentah Amerika Serikat ditutup pada kisaran USD 98 per barel, sedangkan Brent berada di sekitar USD 112. Gangguan di Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia, turut memperparah kekhawatiran pasar.
Data menunjukkan hubungan negatif yang kuat antara pasar saham dan harga minyak. Saat harga energi meningkat, pasar saham cenderung mengalami tekanan.
"Jika Anda seorang pedagang, Anda akan mengamati harga minyak karena menurut saya hal ini biasanya menjadi indikator utama bagaimana pasar keuangan melihat prospek konflik ini," ujar Eric Kuby, Kepala Investasi di North Star Investment Management Corp.
Meskipun sektor energi dalam S&P 500 mengalami kenaikan setelah lonjakan harga minyak, kontribusinya terhadap indeks tetap rendah, di bawah 4 persen. Hal ini menyebabkan kenaikan saham sektor energi belum cukup untuk mengatasi tekanan pada indeks utama.
Secara keseluruhan, indeks S&P 500 kini telah mengalami penurunan sekitar 6,8 persen dari rekor penutupan tertinggi pada akhir Januari. Namun, penurunan ini dianggap masih lebih terkendali dibandingkan gejolak sebelumnya.
"Proses ini berlangsung cukup teratur, yang menurut saya merupakan tanda yang menggembirakan," ujar Fasciano.
"Dan saya rasa ini disebabkan oleh dasar-dasar perusahaan-perusahaan di Amerika yang masih cukup kokoh dan memberikan dukungan," tambahnya.
Dari segi teknis, tekanan mulai terlihat. S&P 500 telah melewati di bawah rata-rata pergerakan 200 hari, indikator penting bagi para investor untuk pertama kalinya sejak Mei. Indeks juga turun ke tingkat terendah sejak September dan berada di bawah titik rendah November yang sebelumnya dianggap sebagai batas aman.
Di masa depan, fokus pasar akan tertuju pada perkembangan konflik Iran serta rencana industri energi global, termasuk konferensi besar di Houston yang diikuti oleh para pemimpin energi dunia.
Analisis dari UBS Global Wealth Management menyebutkan bahwa situasi terkini telah meningkatkan potensi konflik yang berlarut dan memperluas kemungkinan harga minyak tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
"Meskipun kemungkinan adanya dampak yang tidak terlalu merusak di Selat Hormuz masih tersisa, kejadian-kejadian terbaru telah mengurangi peluang tersebut dan meningkatkan risiko ketidakstabilan yang berkelanjutan," tulis analis UBS.
Posting Komentar