News Breaking
MEDKOM LIVE
wb_sunny

Breaking News

Ambulans Terhalang Konvoi Pesilat, Pasien Meninggal, PSHT: Takdir atau Pemaksaan?

Ambulans Terhalang Konvoi Pesilat, Pasien Meninggal, PSHT: Takdir atau Pemaksaan?

Ringkasan Berita:
  • Beberapa anggota organisasi bela diri melakukan prosesi konvoi yang berujung pada kehilangan nyawa.
  • Kendaraan yang bergerak di Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada Sabtu (20/6/2026) menyebabkan kemacetan yang membuat sebuah ambulans yang mengangkut pasien kritis bernama Hadi Sukat (60) terjebak dalam antrean kendaraan dan akhirnya meninggal.
  • Ketua PSHT 17 Cabang Karanganyar, Sutarmo, menolak untuk disalahkan, menyatakan kematian Hadi Sukat adalah takdir.

Aksi pawai yang dilakukan beberapa anggota organisasi bela diri kembali mendapat perhatian masyarakat karena dianggap sering menimbulkan ketidaknyamanan di tengah warga.

Pada beberapa insiden, rombongan kendaraan tidak hanya memicu kemacetan, tetapi juga berakhir dengan kerusakan pada fasilitas masyarakat, korban cedera, hingga kehilangan nyawa.

Satu kejadian terjadi di wilayah Tenggilis Mejoyo, Surabaya, Jawa Timur, pada hari Rabu (17/6/2026).

Pada saat itu, rombongan perguruan silat diduga menyebabkan tindakan kerusakan terhadap rumah penduduk, mobil, dan sepeda motor yang berada di sekitar area tersebut.

Kasus tersebut selanjutnya ditangani oleh pihak kepolisian dengan menetapkan empat warga yang berasal dari Jombang, Jawa Timur, sebagai tersangka.

Masih hangat perhatian masyarakat terhadap kejadian di Surabaya, kembali terjadi pawai serupa di Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada hari Sabtu (20/6/2026).

Ratusan sepeda motor yang tergabung dalam rombongan mengisi jalur Jalan Solo–Tawangmangu, sehingga menyebabkan kemacetan lalu lintas.

Kemacetan yang terjadi menyebabkan beberapa pengguna jalan mengalami kesulitan dalam melewati jalur, termasuk kendaraan darurat.

Di tengah kemacetan lalu lintas, sebuah ambulans yang mengangkut pasien kritis bernama Hadi Sukat (60) juga terperangkap dalam antrean kendaraan.

Perjalanan menuju tempat layanan kesehatan terganggu akibat kondisi jalan yang penuh dengan rombongan konvoi.

Setelah tiba di puskesmas, Hadi Sukat dinyatakan telah meninggal.

Keluarga korban menganggap keterlambatan dalam penanganan medis sebagai salah satu penyebab memburuknya keadaan pasien.

Mereka juga menyoroti sistem lalu lintas yang dinilai tidak berjalan dengan optimal selama konvoi berlangsung.

Selain itu, pihak keluarga menyatakan bahwa rombongan perguruan silat tidak memberikan akses yang memadai bagi ambulans agar dapat melewati dengan lebih cepat.

Seri kejadian tersebut kembali memicu permintaan agar aktivitas konvoi di jalan umum lebih diperketat pengawasannya guna memastikan keselamatan dan kenyamanan warga.

Seharusnya polisi lalu lintas mengatur lalu lintas, memberi jalan, seharusnya jika ingin diberi ruang itu dilakukan di tempat yang tidak mengganggu lalu lintas.

“Menurut saya, jangan sampai mengganggu pengguna jalan, sangat disayangkan, karena itu hanya terjadi sekali dalam setahun, seharusnya bisa diatur dengan baik,” kata putri korban, Dwi Purnamasari (36), Minggu (21/6/2026).

Keluarga telah menerima kepergian korban dan berharap kejadian serupa tidak terulang.

"Kemarin polisi datang ke sini untuk menyampaikan belasungkawa, dan saya juga menyampaikan keluh kesah saya kepada mereka, perlu adanya peninjauan agar nanti tidak terjadi seperti ayah saya," katanya.

Di sisi lain, Ketua PSHT 17 Cabang Karanganyar, Sutarmo, mengungkapkan keheranannya bahwa organisasinya disalahkan atas kematian seorang pasien kritis di Karangpandan.

Menurutnya, kematian adalah takdir yang ditentukan oleh Tuhan.

"Saya bingung mengapa ada berita seperti itu. Ini adalah soal takdir, rahasia Tuhan. Jika ditunda atau digeser tidak mungkin dan bisa terjadi apa saja. Tapi mengapa kami yang dijebloskan," katanya, Senin (22/6/2026).

Ia tidak mampu mengenali peserta konvoi karena banyak anggota yang tidak mematuhi himbauan panitia.

Kami juga telah mengimbau anggota kami yang tidak terkait dalam persetujuan anggota baru kemarin agar tidak hadir.

"Namun, himbauan kami tidak sepenuhnya diindahkan. Jiwa muda ingin bertemu dan sulit diajak berkomunikasi. Kami juga tidak mengetahui pihak mana yang dimaksud karena PSHT memiliki dua cabang, yaitu di Madiun dan Jakarta, sehingga sulit membedakan," katanya.

Sutarmo mewakili PSHT Karanganyar menyampaikan rasa belasungkawa kepada keluarga yang kehilangan.

"Kami dari pengurus Cabang PSHT Karanganyar turut berbelasungkawa dan mohon maaf jika memang hal tersebut disebabkan oleh kegiatan konvoi yang dilakukan saudara-saudara kami," ujarnya.

Salah satu relawan Karangpandan (Rendan), Agung, menjelaskan bahwa jalan utama Solo-Tawangmangu diisi oleh ratusan orang yang mengenakan pakaian serba hitam dan mengendarai sepeda motor.

"Saat menuju ke rumah pasien, perjalanan mobil ambulans terhambat oleh mereka, jalan Solo-Tawangmangu pada saat itu tidak bisa dilalui," katanya, Minggu (21/6/2026), dikutip dari TribunSolo.com.

Meski telah mampu mengambil pasien, jalan kembali sulit dilalui karena konvoi mengisi seluruh permukaan jalan.

"Saat tiba di puskesmas, kondisinya diperiksa dan tidak ditemukan lagi detak jantung serta dinyatakan meninggal," katanya.

(TribunTrends/Tribunnews/Mohay)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar