News Breaking
MEDKOM LIVE
wb_sunny

Breaking News

Momen Warga Mengarak Jenazah Melkiana dan Bayinya Korban Penembakan di Intan Jaya

Momen Warga Mengarak Jenazah Melkiana dan Bayinya Korban Penembakan di Intan Jaya

Ringkasan Berita:
  • Melkiana Duwitau (31), seorang wanita yang sedang mengandung meninggal dunia diduga akibat ditembak saat terjadi pertukaran tembakan antara pasukan keamanan dan TPNPB-OPM di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Kamis (2/7/2026).
  • Sayangnya, bayi yang berusia 32 minggu dalam kandungan Melkiana tidak berhasil diselamatkan.
  • Warga melakukan pawai dan membawa jenazah Melkiana beserta bayinya mengelilingi Kota Sugapa, Jumat (3/7/2026).

, JAYAPURA- Melkiana Duwitau (31), seorang perempuan yang sedang mengandung meninggal dunia diduga akibat ditembak saat terjadi pertemuan tembak antara aparat keamanan dan TPNPB-OPM di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada hari Kamis (2/7/2026).

Sayangnya, bayi yang berusia 32 minggu dalam kandungan Melkiana tidak berhasil diselamatkan.

Korban sempat dibawa ke rumah sakit untuk menjalani operasi darurat, tetapi nyawa ibu dan anak tersebut tidak berhasil diselamatkan.

Kematian ibu dan anak ini menimbulkan rasa sedih yang mendalam bagi penduduk sekitar.

Mereka juga melakukan pawai dan membawa jenazah Melkiana serta bayinya mengelilingi Kota Sugapa, Jumat (3/7/2026) sebelum kedua jenazah dibawa ke rumah duka.

Di dalam video yang beredar, dikutip dari Tribun Papua, warga berjalan kaki dengan tertib sambil memegang foto korban sebagai bentuk penghormatan terakhir dan ekspresi rasa duka yang mendalam.

Tindakan ini berlangsung dengan baik dan teratur tanpa kendala.

 

Kronologi Penembakan

Data dikumpulkan, kejadian tersebut terjadi di rumah orang tua korban di Desa Wandoga, Kecamatan Sugapa, ibu kota Kabupaten Intan Jaya, Kamis (2/7/2026) sekitar pukul 19.30 WIT.

Lokasi tersebut terletak tidak jauh dari beberapa kantor pemerintahan serta pos dan markas TNI.

Dalam video yang diunggah oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Intan Jaya, kejadian pertama kali dilaporkan oleh Ketua Tim Penanganan Konflik Intan Jaya, Misael Sondegau.

Misael mengungkapkan, beberapa tembakan yang ditujukan ke rumah korban diduga berasal dari arah area markas TNI setempat.

Satu dari peluru itu menembus dinding kayu rumah dan mengenai bagian kepala Melkiana.

Ibu hamil delapan bulan tersebut meninggal di lokasi kejadian.

Belasungkawa dan Kekecewaan Bupati Intan Jaya

Di dalam pernyataannya, Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, mengungkapkan sangat sedih atas kejadian yang menyebabkan kematian warganya.

Aner menyampaikan belasungkawa yang mendalam terkait peristiwa tersebut.

Ia berharap pihak yang terlibat segera mengungkap secara menyeluruh penyebab kejadian tersebut.

Aner menyesali masih terjadinya konflik bersenjata di daerahnya yang terus mengakibatkan kematian warga biasa.

"(Akibat perang saudara), tetapi dampaknya terhadap masyarakat kami yang tidak bersalah," ujar Aner dalam pernyataannya, Jumat.

Ia mengakui hingga saat ini wilayah Kabupaten Intan Jaya masih dalam kondisi darurat karena adanya konflik bersenjata.

Namun Aner juga merasa kecewa karena warga sipil kembali menjadi korban dalam operasi pengamanan yang dilakukan oleh pihak berwajib.

TNI Mengatakan Tembakan Berasal dari Kelompok Bersenjata

Di sisi lain, TNI melalui Komando Operasi (Koops) Habema menyangkal terlibat dalam penembakan pada malam peristiwa tersebut.

Berdasarkan informasi TNI, tembakan justru datang dari kelompok yang memiliki senjata.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia meminta Prabowo mengambil tindakan

Di sisi lain, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Papua mengimbau Presiden RI Prabowo Subianto segera mengambil tindakan untuk meninjau sistem pengelolaan keamanan di daerah yang rentan konflik di Papua.

Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua, Frits Ramandey menegaskan, pengelolaan keamanan di daerah yang sedang mengalami konflik di Papua sudah seharusnya mengalami perubahan.

Pemeliharaan stabilitas tidak boleh hanya bergantung pada kekuatan senjata atau pendekatan yang bersifat represif saja.

Menurutnya, pemerintah perlu mulai menerapkan pendekatan kemanusiaan yang seimbang serta sepenuhnya berlandaskan perlindungan hak asasi manusia agar tidak lagi terjadi tumpahnya darah warga sipil.

Tewasnya Remaja 19 Tahun

Sebelumnya, kejadian kematian warga sipil juga terjadi di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.

Okto Tigau (19) yang sebelumnya dilaporkan hilang sejak Senin (29/6/2026) ditemukan sudah meninggal.

Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna menyampaikan bahwa Okto meninggal dunia akibat insiden tembak-menembak yang terjadi di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.

Wirya menyebutkan bahwa Okto Tigau dikenal sebagai anggota TPNPB-OPM.

"Berlandaskan data yang dimiliki pihak keamanan, Okto Tigau diketahui sebagai anggota TPNPB-OPM yang menjabat sebagai Wakil Komandan Operasi Batalyon Metua Kodap VIII/Intan Jaya," ujar Wirya saat dihubungi, Kamis (2/7/2026).

"Yang bersangkutan terlibat dalam beberapa tindakan kekerasan di Intan Jaya, seperti penembakan terhadap petugas keamanan, penembakan terhadap warga sipil, penyiksaan terhadap penduduk, serta berbagai tindakan ancaman terhadap masyarakat," tambahnya.

"Penyampaian informasi ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai kondisi yang sedang dihadapi oleh petugas di lapangan," tambah Wirya.

Kronologi Versi TNI

Wirya menerangkan kejadian tersebut dimulai ketika petugas yang sedang menjalankan tugas pengamanan mengamati empat orang yang bergerak diam-diam menuju pos pada malam hari.

Berdasarkan prosedur yang berlaku, petugas memberikan peringatan secara bertahap.

Namun peringatan tersebut tidak direspon.

"Dan sekitar pukul 22.00 WIT terjadi pertemuan tembak yang dimulai oleh kelompok tersebut," katanya.

Berdasarkan pengamatan langsung di lokasi, menurutnya, tiga orang berhasil kabur, sedangkan satu orang jatuh di sekitar area tersebut.

Namun, tindakan penyaringan tidak dilakukan pada malam itu karena pertimbangan keamanan.

Esok harinya, tim gabungan Koops TNI Habema melakukan pencarian sesuai prosedur dan menemukan satu jenazah pria beserta sebilah parang.

"Berlandaskan kesamaan ciri fisik, dokumen, serta data yang tersedia, jenazah tersebut dikenali sebagai Okto Tigau," katanya.

"Kemudian tim penyisir menyerahkan penanganan jenazah Okto Tigau kepada tokoh adat setempat agar dapat mengurus jenazah sesuai dengan aturan yang berlaku," lanjut Wirya.

Bupati Intan Jaya Kecewa

Kepala Daerah Intan Jaya Aner Maisini mengungkapkan rasa kecewa yang mendalam.

Ia mengecam keras kejadian yang diduga melibatkan pihak petugas keamanan.

Aner juga menuntut Presiden Prabowo Subianto bersama Panglima TNI segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penempatan satuan nonorganik yang bertugas di wilayah Kabupaten Intan Jaya.

Ia juga mengungkapkan, penemuan jasad Okto terjadi pada saat yang sangat menyedihkan.

Jasad pemuda itu ditemukan saat masyarakat Intan Jaya sedang berduka dan menguburkan seorang gembala gereja yang juga menjadi korban penembakan.

"Tadi kami sedang menguburkan seorang peternak yang ditembak. Pada saat bersamaan, kami menerima informasi bahwa jenazah Okto ditemukan di belakang Pos Habema," kata Aner dilansir dari Tribun-Papua.com, Kamis (2/7/2026).

Mendengar berita tersebut, Pemerintah Kabupaten Intan Jaya bersama anggota DPR dan tim penanganan segera bertindak cepat untuk mengevakuasi jenazah Okto.

Jenazah Okto segera dikebumikan pada hari yang sama.

Kronologi Versi Lain

Berdasarkan rangkaian kejadian yang dikumpulkan Tribun-Papua.com, peristiwa yang menimpa Okto dimulai pada Senin (29/6/2026) ketika Okto datang ke Kampung Mamba untuk menghadiri dan ikut serta dalam upacara pemakaman anggota keluarganya.

Setelah upacara pemakaman selesai, remaja berusia 19 tahun tersebut berencana pergi ke Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Intan Jaya untuk mengurus dokumen administratif seperti Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Saat sedang berjalan menuju kantor Dukcapil, Okto melihat seorang tukang ojek yang melewati dari arah Muara dan memutuskan untuk naik motor tersebut.

Namun, ketika melewati kawasan perkantoran pemerintah di Kampung Mamba, Kecamatan Sugapa, kendaraan yang mereka tumpangi dihentikan oleh aparat keamanan.

Okto dan tukang ojek tersebut diduga langsung ditahan serta mendapat pukulan dari anggota TNI.

Setelah menjalani pemeriksaan dan pemeriksaan lanjutan, tukang ojek tersebut dibebaskan. Sementara itu, Okto tetap ditahan untuk diperiksa lebih lanjut. Setelah kejadian itu, siapa pun tidak mengetahui keberadaan Okto hingga akhirnya jenazahnya ditemukan hari ini," kata Bupati Aner.

Setelah dikeluarkan dari pos penjagaan yang berbeda, tukang ojek segera memberitahukan kejadian tersebut kepada keluarga korban.

Sejak saat itu, Okto dikabarkan hilang.

Dua hari kemudian, yaitu pada Rabu (1/7/2026) siang, Okto ditemukan dalam keadaan kaku dan berlumur darah di belakang Pos Rajawali Habema, wilayah perkantoran Pemerintah Kabupaten Intan Jaya.

Okto diduga meninggal dunia akibat penganiayaan yang berat.

(Tribunpapua.com/Tribun Papua Tengah/)

Beberapa artikel ini telah diterbitkan di Tribun-Papua.com dengan judul Ibu Hamil Meninggal Akibat Terkena Peluru di Intan Jaya, Komnas HAM Papua Minta Prabowo Evaluasi Kondisi Keamanan

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar