Gunung Anak Krakatau Meletus: Bahaya dan Riwayat Letusan Era Kolonial

Gunung Anak Krakatau meletus sebanyak 12 kali pada hari Rabu (08/07) dan Jumat (10/07). Angka ini melebihi separuh jumlah letusan yang tercatat sepanjang tahun 2026, yaitu 17 kali.
Serangkaian letusan menimbulkan pertanyaan: Bagaimana prediksi para ahli vulkanologi mengenai aktivitas terbaru gunung di Selat Sunda? Apakah bahaya dan berpotensi memicu tsunami seperti yang terjadi pada tahun 2018 lalu?
Kemudian, bagaimana riwayat aktivitas Krakatau, yang dianggap sebagai salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah dunia?
Seorang penduduk Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Banten, bernama Ebi, mengatakan pernah melihat asap dari Gunung Anak Krakatau dari warung miliknya yang terletak di tepi pantai pada awal Juli.
"Saya sedang di warung saat meletus. Biasanya hanya sedikit, tapi kemarin cukup banyak, jadi saya langsung khawatir," kata pria berusia 40 tahun itu, Rabu (08/07).
Pada tahun 2026, tercatat sebanyak 12 letusan terjadi pada Gunung Anak Krakatau. Seluruhnya terjadi pada bulan Juli 2026.
Kegiatan erupsi Gunung Anak Krakatau sebelumnya berlangsung pada awal hingga pertengahan Desember 2023. Pada masa itu, ketinggian kolom abu mencapai sekitar 200 hingga 2.000 meter di atas mulut kawah.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Pengurangan Risiko Bencana Geologi (PVMBG) saat ini menetapkan Gunung Anak Krakatau dalam Status Level III (Siaga).
PVMBG, pada hari Rabu (08/07), menyarankan "masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam jarak tiga kilometer dari kawah yang aktif."
Peningkatan kegiatan vulkanik membuat Ebi merasa cemas.
"Orang yang tinggal di tepi pantai pasti takut. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Takut kejadian serupa terulang kembali," ujar Ebi.
Bayang-bayang tsunami 2018

Kekhawatiran Ebi berkaitan dengan bencana tsunami yang terjadi di Selat Sunda pada tahun 2018.
"Yang paling buruk saat tsunami dulu. Semua orang melarikan diri. Di sini memang tidak separah Tanjung Lesung, tapi tetap terkena dampaknya," katanya.
Pada tanggal 22 Desember 2018, longsoran dari bagian barat Gunung Anak Krakatau menyebabkan terjadinya bencana tsunami dengan ketinggian hingga 13 meter.
Akibatnya, 437 orang meninggal, 14.059 luka-luka, dan 33.719 orang kehilangan tempat tinggal di pesisir Banten dan Lampung.

Delapan tahun telah berlalu, Ebi mengatakan bahwa masyarakat kini secara perlahan bangkit dari bencana tsunami tersebut.
Di wilayah kecamatan tersebut, tambahnya, telah tersedia empat jalur evakuasi yang bisa dimanfaatkan jika terjadi bencana.
Namun, menurutnya, rasa trauma masih terus terasa setiap kali Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan peningkatan kegempaan.
Mungkin Anda tertarik:
- Apakah letusan Gunung Anak Krakatau menyebabkan tsunami di Selat Sunda?
- Gambar satelit mengungkap bentuk terbaru Gunung Anak Krakatau
- Isu-isu mengenai suara ledakan Gunung Anak Krakatau, siapa yang sebaiknya kita percayai?
"Jika mendengar Gunung Krakatau meletus kembali, pasti langsung merasa cemas. Semoga tidak terjadi lagi seperti tsunami sebelumnya," ujarnya.
Ebi juga berharap pemerintah terus memperkuat langkah-langkah penanggulangan bencana, mulai dari sirene peringatan dini, jalur evakuasi, sosialisasi kepada masyarakat hingga pengelolaan kawasan pesisir.

Trauma tsunami tahun 2018 masih terus menghantui pikiran Yuliyanah, berusia 32 tahun. Ia adalah penduduk Pulau Sebesi, Lampung, yang secara langsung menghadapi Gunung Anak Krakatau.
"Pada tahun [2018], kepanikan sangat luar biasa, kami hanya berpikir bagaimana menyelamatkan diri. Kami terpaksa tinggal di pegunungan dan tidak bisa tidur karena khawatir dengan kondisi rumah," kenang Yuliyanah.
Bencana tsunami tahun 2018 menghancurkan Pulau Sebesi, yang dihuni oleh sekitar 2.800 penduduk.
Untuk kondisi erupsi saat ini, Yuliyanah mengatakan bahwa kegiatan wisata ke Sebesi masih berjalan dengan lancar tanpa adanya tanda-tanda api. Warga juga, katanya, aktif mengawasi perkembangan informasi melalui media sosial dan aparat setempat.
"Kami berharap pemerintah lebih memperhatikan masyarakat pesisir yang rentan terkena dampak tsunami, khususnya agar dapat lebih memudahkan akses terhadap alat dan fasilitas keselamatan," ujar Yuliyanah.
Video hoaks viral

Trauma yang dirasakan semakin memburuk akibat penyebaran video di media sosial yang menggambarkan letusan Gunung Anak Krakatau dengan api yang muncul dari atas kapal pada 3 Juli lalu.
Itu disampaikan oleh warga pesisir di Desa Canti, Lampung Selatan, Deliana.
"Ya, semua warga menjadi panik karena video tersebut, termasuk kami di sini, di pesisir. Padahal tidak seperti itu, hanya batuk saja, mengeluarkan asap, debu juga tidak tebal," keluh Deliana saat diwawancarai di Dermaga Canti.
Otoritas terkait dia telah menyangkal dan menyebut video tersebut sebagai palsu.
Selain menimbulkan kepanikan, video palsu tersebut juga dikatakan Deliana berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat pesisir.
"Yang awalnya ingin beraktivitas dari Pulau Sebesi ke Dermaga Canti jadi tidak berani karena video itu, itu kan mengganggu usaha juga," tambahnya.
Terus mencari ikan

Di tengah pemberlakuan status siaga (III) serta himbauan untuk menjauhi kawah aktif Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer, beberapa nelayan tradisional mengatakan terpaksa melanggar batas keamanan tersebut.
Karena, area sekitar kawah aktif Anak Krakatau menjadi tempat tinggal utama bagi kawanan ikan yang memiliki nilai jual tinggi.
"Kami tetap memaksakan diri untuk pergi ke sana meskipun risikonya sangat besar. Karena jika kami tidak menangkap ikan, dapur kami akan kosong. Di sekitar gunung berapi tersebut adalah tempat berkumpulnya ikan besar, gudangnya kakap merah, tenggiri, tuna, hingga tongkol," ujar Sarifudin yang sudah menjadi nelayan selama 11 tahun.
Hal yang serupa juga disampaikan oleh Edi Muhtadi, seorang nelayan dari Kampung Pulau Pasaran, Bandar Lampung.
Jika memang sedang meletus, kami akan menjauh dari lokasi. Tetap berlayar, tetapi menghindari area sekitar Gunung Anak Krakatau, kata Edi, Senin (06/07).
Bagaimana kondisi terkini dari Gunung Anak Krakatau?

Ahli Gunung Api PVMBG yang berada di Pos Desa Pasauran, Banten, Deny Mardiono, menyatakan bahwa aktivitas gempaan Gunung Anak Krakatau masih didominasi oleh gempa vulkanik.
Namun, Deny memastikan bahan letusan masih terdapat di sekitar tubuh Gunung Anak Krakatau hingga saat ini.
"Karena di sana tidak ada kegiatan atau pemukiman penduduk, maka ancamannya terhadap masyarakat sangat rendah. Yang perlu diperhatikan hanyalah abu vulkanik, dan itu juga bergantung pada arah angin," ujar Deny.
Deny mengatakan, peningkatan aktivitas vulkanik teramati sejak awal Juni 2026, salah satunya ditandai dengan munculnya sinar api. Selanjutnya, menjelang letusan pada 2 Juli 2026, gempa vulkanik dangkal mengalami kenaikan yang cukup besar.
Namun, Dendy menegaskan, keadaan saat ini berbeda dibandingkan peristiwa tsunami tahun 2018.
"Jika pada tahun 2018 terjadi penumpukan aktivitas sejak Juni hingga Desember yang akhirnya menyebabkan longsoran tubuh gunung dan memicu tsunami. Sedangkan saat ini energinya masih cukup rendah," katanya.

Senada, Ketua Pos Gunung Api Krakatau di Lampung, Suwarno, mengatakan kubah lava telah runtuh pada tahun 2018, sehingga risiko longsoran besar yang dapat memicu tsunami menjadi lebih kecil.
"Ya, risikonya mungkin yang terkena adalah abu vulkanik terdekat yang arahnya ke barat laut, seperti ke Pulau Sebesi. Masyarakat di sana harus menggunakan masker dan helm berlensa saat berkendara, karena serpihan abu itu sangat tajam seperti kaca sehingga dapat menyebabkan iritasi mata atau ISPA," katanya.

Pemerintah Kabupaten Serang, Banten, juga memastikan objek wisata pantai di Anyer dan Cinangka tetap aman untuk dikunjungi. Hal ini karena lokasi tersebut berjarak 42 kilometer dari Gunung Anak Krakatau.
Kondisi Gunung Anak Krakatau menunjukkan penurunan dan dianggap aman. Kami mengajak para wisatawan, baik lokal maupun dari luar daerah, untuk tidak perlu khawatir merayakan libur sekolah bersama keluarga di kawasan pesisir Serang,kata Wakil Bupati Serang, Muhammad Najib Hamas, Senin (06/07).
Sementara itu, Polda Lampung memasang plang imbauandi beberapa titik penting sebagai peringatan bagi masyarakat, wisatawan, dan nelayan untuk tidak mendekati area Gunung Anak Krakatau.
Prediksi vulkanolog

Ahli vulkanologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman menyatakan bahwa aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau saat ini tergolong aman dan tidak membahayakan masyarakat yang beraktivitas di sekitar pesisir Banten dan Lampung.
"Ledakan dan longsoran mungkin terjadi, tetapi tidak sebesar tahun 2018, karena ketinggiannya belum mencapai tingkat 2018," ujar Mirzam.
Karena, katanya, Gunung Anak Krakatau sedang berkembang dan meninggi, setidaknya sampai mencapai kondisi pada tahun 2018.
Namun yang harus diperhatikan, menurut Mirzam, adalah seberapa cepat pertumbuhan Gunung Anak Krakatau serta volume yang dihasilkan.
https://www.instagram.com/p/DROoJ_aCdhQ/?img_index=1
Mirzam membagi tahap perkembangan tersebut menjadi tiga masa.
Pertama Munculnya Gunung Anak Krakatau antara tahun 1927 hingga 1960. Dibutuhkan sekitar 33 tahun untuk berkembang, kemudian sebagian dari gunung tersebut mengalami longsoran.
Kedua pertumbuhan antara tahun 1961 sampai 2018. Dalam periode tersebut, diperlukan waktu sekitar 58 tahun.

Ketiga yaitu perkembangan dari tahun 2019 hingga 2026. Pada masa tersebut, siklus letusan terjadi secara rutin setiap dua tahun, dengan tren pertumbuhan yang pesat.
"Yang perlu diperhatikan, pertumbuhan Anak Krakatau sesuai dengan periode apa? Jika periode satu atau dua, maka untuk mencapai ketinggian yang kemudian longsor diperkirakan terjadi pada abad ke-21," kata Mirzam.
Tetapi jika trennya dari tahun 2019 hingga saat ini berjalan sangat cepat dan diperkirakan akan mencapai tingkat yang sama dengan 2018 hanya dalam empat tahun ke depan, yaitu pada tahun 2030.
"Inilah yang selanjutnya harus kita waspadai. Pelajaran terakhir dari Krakatau tidak boleh terulang kembali," ujar Mirzam.

Kemudian, mengapa tingkat pertumbuhannya sekarang relatif tinggi?
Mirzam menyebutkan bahwa Gunung Anak Krakatau memiliki dua jenis magma, yakni magma permukaan dan magma dalam.
"Kebanyakan seperti satu wadah yang diisi dari dua sumber, itulah sebabnya pertumbuhan menjadi cepat," katanya.
Selain itu, katanya, kawah Gunung Anak Krakatau masih cenderung terbuka setelah meletus pada tahun 2018.
Maknanya, pasokan magma dari bawah gunung dapat muncul secara cepat tanpa adanya penghalang.

Senada, ahli vulkanologi Surono mengatakan, Anak Krakatau merupakan gunung berapi yang muda dan sehat. Artinya, ia perlu sering meletus agar bisa berkembang menjadi besar dan tinggi.
"Ini adalah kejadian yang wajar. Ia harus demikian agar hukum alam terpenuhi. Bahkan letusan tersebut merupakan fenomena alam yang bisa disaksikan, seperti kembang api, sangat indah," ujar Surono.
Namun, terdapat batasan keselamatan yang perlu dipatuhi saat menikmati keindahan yang langka ditemukan di wilayah lain di dunia.
"Yang paling ekstrem sebaiknya tidak naik ke Pulau Anak Krakatau dan tidak melakukan aktivitas di sekitarnya. Selanjutnya, amati dari jarak aman yang ditentukan," kata Surono.
Keunikan alam tidak selalu perlu ditakuti, namun kita harus berani hidup selaras dengannya. Seperti gunung berapi, terdapat petunjuk-petunjuk yang harus diikuti.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menyatakan, ada beberapa langkah penanggulangan terkait aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau, seperti mematuhi area larangan masuk, serta meningkatkan kesiagaan di daerah pesisir.
Kemudian, menurutnya, adalah mempersiapkan diri terhadap paparan abu vulkanik serta menghindari berita palsu.
Krakatau dalam tiga era

Mirzam dari ITB menyatakan bahwa rangkaian letusan Gunung Krakatau setidaknya telah tercatat terjadi ratusan tahun yang lalu.
Ia membagikannya ke dalam tiga masa, yaitu masa gelap, Hindia Belanda, dan Indonesia.
Zaman gelap dan catatan raja Jawa
Seluruh dunia mengalami guncangan hebat, dan guntur menggelegar, disusul hujan deras serta badai, namun air hujan tersebut tidak memadamkan ledakan api Gunung Kapi, melainkan semakin memperkuatnya; suaranya menakutkan; akhirnya Gunung Kapi meledak dengan suara mengerikan dan pecahan-pecahannya tenggelam ke bagian terdalam bumi.
Air laut meningkat dan menggenangi daratan, wilayah di sebelah timur Gunung Batuwara hingga Gunung Raja Basa terendam air laut; penduduk bagian utara kerajaan Sunda hingga Gunung Raja Basa tenggelam dan hilang bersama segala hartanya.
Itu merupakan catatan perpustakaan Raja Purwa, karya sastra Jawa dari Kesultanan Surakarta, Ronggowarsito, sekitar tahun 1869. Salinan buku tersebut masih tersimpan rapi di Perpustakaan Nasional, Jakarta.
Gunung Kapi dianggap sebagai leluhur dari Gunung Krakatau. Letusan besar tersebut diceritakan oleh Ronggowarsito terjadi pada 416 Masehi.

Namun, beberapa ilmuwan mengatakan peristiwa tersebut mungkin terjadi pada tahun 535 Masehi.
Hal tersebut mengacu pada penelitian ilmiah yang terjadi pada abad ke-6, yaitu perlambatan data siklus tahunan pada pohon, penurunan suhu di daerah kutub secara signifikan, kenaikan kadar asam sulfat di Greenland serta berakhirnya beberapa peradaban.
Analisis yang menemukan adanya anomali pada abad ke-6 menjadi dasar yang memperkuat dugaan bahwa Gunung Proto Krakatau meletus pada tahun 535, yang merujuk pada masa kegelapan tersebut,ucap Mirzam.
Berdasarkan Pusat Informasi Lingkungan Nasional Amerika Serikat (NCEI),energi ledakan Proto Krakatau pada masa itudiperkirakan mencapai sekitar 400 megaton TNT, setara dengan sekitar 20.000 bom atom Hiroshima.
Dampaknya dikatakan memicu gelombang pasang hingga ke India dan bahkanmembentuk kaldera bawah lautseluas tujuh kilometer, yang kemudian memisahkan Pulau Jawa dan Sumatra.
Hindia Belanda

Berabad-abad berlalu, Gunung Krakatau secara perlahan mulai membangun bentuknya kembali.
Pembuat peta Willem Lodewijcksz bersama Cornelis de Houtman mencatat keberadaan Pulau Krakatau pada tanggal 17 Juni 1596.
Dalam bukuSejarah vulkanologi di Nusantara Belanda dahulu, vulkanolog M. Neumann van Padang mengarangbahwa dua penjelajah tersebut menggambarkan Krakatau sebagai rangkaian pulau yang tertutup hutan lebat, yang mereka beri nama Carcata dan Cercata.
Asap belerang muncul dari titik tanah berwarna merah, yang menunjukkan bahwa aktivitas gunung berapi sangat tinggi.
Beberapa puluh tahun kemudian, seorang pekerja tambang emas di Sumatra, Johan Wilhelm Vogel, mengisahkan letusan Krakatau yang terjadi antara tahun 1680 hingga 1681.
Saat melewati Selat Sunda untuk yang ketiga kalinya, Vogel menggambarkan Krakatau mulai dari yang hijau dan lebat dengan tumbuhan menjadi gersang dan terbakar.

Kemudian, kapten kapal perang JermanElisabeth melihat gumpalan abu dan debu mengambang di atas pulau Krakatau yang tidak berpenghuni pada Mei 1883.
Dalam dua bulan berikutnya, kapal dagang dan kapal pesiar mencatat pertunjukan Gunung Krakatau: suara ledakan, awan hitam yang mengepul, serta cahaya api yang membara.
Ternyata peristiwa tersebut merupakan awal dari salah satu letusan gunung berapi yang paling besar dalam sejarah.
Pada 26 Agustus 1883, Gunung Krakatau mengalami letusan yang sangat hebat.

Sidney Baker menyaksikan letusan tersebut dari kapal ayahnya ketika masih kecil, dan mengingat peristiwa itu menjelang akhir hidupnya.
"Udara terlihat penuh dengan debu, begitu tebal hingga kami khawatir akan tersedak," katanya kepada BBC pada tahun 1946.
Kondisi menjadi sangat gelap sehingga Anda tidak bisa melihat tangan sendiri di depan wajah. Abu mulai turun di sekitar kapal, di atas kapal, dan ke dalam air. Mungkin terdapat sekitar enam hingga tujuh inci abu yang menutupi seluruh kapal.
Ia menggambarkan suara ledakan tersebut sebagai hal yang "luar biasa".
"Kata-kata tidak cukup untuk menggambarkan seberapa bising dan kacau kondisi pada saat itu," ujarnya.

Letusannya dilaporkan setara bom 200 megatonatau sekitar 10.000 kali lebih besar dibandingkan bom Hiroshima.
Dua per tiga bagian utara pulau tersebut ambruk ke dalam laut, menyebabkan deretan aliran lava, abu, dan gelombang tsunami yang sangat mengerikan.
Eruption Krakatau menghasilkan awan panas yang nyaris merusak segala sesuatu di sepanjang jalannya.
Dampaknya, bencana itu diperkirakan menewaskan sekitar 36.000 jiwa.
Eruption Krakatau, juga dikenal sebagai NCEI AS, menghasilkan tsunami yang dilaporkan mencapaiHawaii hingga Amerika Selatan.
Abu dari letusan Krakatau terlempar hingga 80 kilometer ke luar angkasa dan menutupi area seluas 800.000 kilometer persegi, sehingga wilayah tersebut dalamkegelapan selama dua setengah hari.
Bahkan, abu tersebut bergerak mengelilingi bumi, menyebabkan efek halo (pembiasan dan pemantulan cahaya oleh jutaan kristal es di atmosfer) serta penyaringan radiasi matahari.
Suhu dunia dikatakan menurun hingga0,5 derajat Celciusdan kembali normal setelah lima tahun.

Letusan Krakatau juga menghasilkan suara terdengar paling keras yang pernah terekam dalam sejarah modern, terdengar di lebih dari10% permukaan bumi, tiba di Pulau Mauritius (Afrika Timur) yang berjarak sekitar 4.600 km.
Letusan Krakatau kalah darierupsi Tambora pada tahun 1815yang mengakibatkan kematian 60.000 orang.
Ledakan Krakatau merupakan bukti nyata dari kekuatan alam yang tidak bisa dikendalikan,kata Dr. Martin Mangler, dari di Museum Sejarah Alam.
Secara cepat, letusan gunung berapi mampu mengubah wajah seluruh planet melalui berbagai cara, di mana Bulan biru kemungkinan merupakan dampak yang paling menarik dan paling aman.
Penulis buku Krakatoa: Hari Saat Dunia Meledak,Simon Winchester juga menyebutkan letusan ini.
"Seluruh pulau, yang terdiri dari enam mil kubik batu, menguap dalam ledakan yang melemparkan batu apung dan abu hingga 17 hingga 18 mil ke langit, dan pulau tersebut pun hilang," kata Winchester dalam wawancara di BBC Witness History pada 2010.
Selama beberapa detik, ledakan tersebut meninggalkan lubang besar di laut, yang segera terisi oleh triliunan ton air. Karena suhu di bawahnya sangat tinggi, air itu langsung menguap dan berubah menjadi semburan uap panas, yang menyebabkan gelombang tsunami besar.
Indonesia

Gunung Krakatau kemudian tenggelam dan hilang ditelan oleh lautan. Gunung Anak Krakatau dilaporkan muncul dari permukaan laut pada tahun 1927.
Sejumlah nelayan melihat dan mendengar "dengan suara yang menggelegar, gelembung-gelembung gas besar tiba-tiba muncul ke permukaan laut,"tulis Simon Winchester, menggambarkan munculnya gunung baru dari bekas kaldera Krakatau.
Gunung Anak Krakatau berkembang pesat sepanjang abad ke-20.
Pada tanggal 22 Desember 2018, Gunung Anak Krakatau meletus kembali, menyebabkan sebagian dari tubuhnya rusak.setinggi 338 meter dan mengakibatkan tsunami setinggi 13 meter.
Akibatnya, 437 orang meninggal, 14.059 luka-luka, dan 33.719 orang kehilangan tempat tinggal di pesisir Banten dan Lampung.
Eruption Gunung Anak Krakatau tahun 2018 kembali dianggap sebagai salah satu peristiwa letusan gunung berapi paling mematikan abad ke-21 hingga saat ini.

Winchester pernah menyatakan bahwa letusan Krakatau pada tahun 1883 membuat umat manusia menyadari bahwa satu peristiwa alam bisa berdampak di seluruh dunia.
Dan dari sana mulailah kesadaran bahwa seluruh dunia merupakan satu kesatuan yang saling terkait. Hal-hal yang saat ini kita anggap biasa, seperti pemahaman mengenai pemanasan global dan kenaikan permukaan air laut...
"Semua bermula dari kesadaran bahwa dunia adalah tempat yang saling terkait. Kesadaran ini muncul bersama letusan Krakatau," kata Winchester.
---
Jurnalis Robertus Bejo dari Lampung dan Muhammad Iqbal dari Banten berkontribusi dalam laporan ini.
- Eruption Krakatau yang menewaskan puluhan ribu jiwa dan mengguncang dunia
- Krakatau mulai menunjukkan aktivitas yang meningkat, status berubah menjadi 'Siaga,' hujan abu terjadi di beberapa lokasi
- Gambar satelit mengungkap bentuk terbaru Gunung Anak Krakatau
- Blok Anak Krakatau yang menyebabkan tsunami dipetakan di dasar laut
- Ancaman dari Gunung Anak Krakatau: Pencarian tempat baru untuk badak jawa
- Alat rusak, pos pengawasan Gunung Anak Krakatau di Lampung mengandalkan pandangan mata
- Gunung berapi di Indonesia berpotensi menyebabkan kekacauan global melalui Selat Malaka.
- Tim SAR berhasil menemukan dua jenazah warga Singapura dan satu warga Indonesia yang menjadi korban letusan Gunung Dukono.
- Gunung Semeru meletus, pengalaman saat pendakian Ranu Kumbolo – 'Kami harus membuat keputusan tegas'
- Tsunami yang disebabkan oleh longsoran Anak Krakatau: Bagaimana gunung berapi bisa menjadi penyebab?
- Akibat letusan, ketinggian Gunung Anak Krakatau berkurang sebesar 228 meter
- Anak Krakatau: Dampak tsunami akibat letusan gunung berapi 'dianggap remeh'
Posting Komentar